Pemilik usaha warung makan bakmi di utara tugu Kartasura Mulyadi mengatakan, lebih dari 50 pedagang, baik toko maupun kuliner di sepanjang utara Jalan A.Yani. Mereka berjualan di sepanjang jalan arah Semarang, Jogja dan Solo.
“Wacana pembangunan flyover secara otomatis akan ada pembebasan lahan. Kami pedagang tidak setuju. Imbasnya nanti ke pembeli dan lahan tempat kami jualan,” katanya, Selasa (17/12).
Mulyadi menilai pembuatan flyover akan berimbas besar kepada pedagang. Selain faktor padatnya rumah toko (toko) serta lokasi parkir yang sudah mepet jalan raya, proses pembangunan flyover akan memakan waktu lama. Apalagi jika dilakukan pembebasan jalan. Di mana jajaran ruko tersebut sudah berbatasan dengan sungai.
“Kasihan yang jualan karena pembangunan pasti lama. Mulai dari penumpukan material hingga realisasi pembangunan. Otomatis pembeli bingung nanti parkir pembeli di mana,” katanya.
Terkait rancangan flyover di mana arus dari arah Semarang menuju Solo dan Jogjakarta otomatis tidak melintas di jalan konvensional, juga membuat pedagang khawatir. Imbasnya tentu pada pembeli.
“Di sini kan banyak kuliner malam seperti lapak saya. Kami khawatir tidak ada pembeli. Apalagi pembeli yang mampir merupakan pelintas jalan dari jauh seperti Semarang, Sragen,” ujar pria yang sudah empat tahun berjualan di lokasi itu.
Dia menilai kepadatan lalu lintas hanya terjadi di jam-jam tertentu. Seperti pukul 17.00 sampai 19.00. Meski libur Lebaran juga menyebabkan kemacetan, namun hal itu masih bisa ditangani petugas pengatur lalu lintas. Kendaraan berat masih bisa dialihkan ke jalan lain.
“Kalau benar direalisasikan harus ada sosialisasi dulu. Dan pedagang harus dicarikan tempat jualan baru yang ramai. Kalau pindah kan sama saja kami harus mulai dari nol lagi,” katanya.
Hal serupa juga diungkapkan pedagang sate kambing utara Tugu Kartasura Agus Sutrisno. Dia khawatir keberadaan flyover justru membuat dagangannya sepi. Agus telah menggantungkan hidup berjualan sejak lima tahun terakhir.
“Memang untuk mengurangi macet, tapi saya kurang setuju karena ada pembebasan jalan itu. Otomatis lahan warga juga semakin sempit. Di sini juga sudah padat toko dan rumah. Ini belakang saja sudah mentok sungai,” katanya.
Jika kendaraan arah Semarang - Solo melintas di flyover, dia khawatir tidak ada pelintas jalan di bagian bawah. Meski di sisi lain bisa mengurangi kemacetan lalu lintas. “Kalau mau direalisasikan harus ada sosialisasi dulu, karena kami di sini jualan. Apalagi kami hanya menyewa di sini. Kalau bisa pemerintah juga mencarikan tempat yang ramai untuk jualan,” katanya.
Berbeda dengan warga sekitar Sardi. Dia mengaku mendukung proyek pemerintah tersebut. Sebab, kemacetan di simpang tiga Kartasura sering terjadi. Dengan adanya jalan layang dia berharap kepadatan lalu lintas bisa diatasi.
“Setuju kalau di buat jalan layang. Karena bisa mengatasi kemacetan setiap libur Lebaran dan sore hari. Karena tiap kami mau melintas juga kesusahan. Kendaraannya padat,” kata.
Proyek ini juga mendapat dukungan dari anggota DPRD Sukoharjo Agus Sumantri. Politikus Partai Golkar ini memilihat Kartasura menjadi poros segitiga pertemuan antara Semarang, Solo dan Jogja.
“Pembangunan flyover di Kartasura perlu segera diwujudkan. Ini akan mengurangi kepadatan dan kemacetan arus lalu lintas. Apalagi posisinya juga sebagai gerbang keluar pintu tol Kartasura,” terangnya.
Terkait keresahan pedagang sekitar, Agus mengatakan, program pembangunan tentu ada dampak positif dan negatifnya. Apalagi keberadaan flyover Kartasura dinilai bisa mengurai kemacetan dan mengurangi crossing conflict yang sering terjadi.
“Lebih banyak dampak positifnya. Apalagi titik macet sering terjadi di Kartasura. Terutama dari Solo ke Jogja dan sebaliknya,” ujarnya. (rgl/bun) Editor : Perdana Bayu Saputra