Konsep reduce, reuse, recycle (3R) sudah mengakar di sekolah. Selama pembelajaran jarak jauh (PJJ), sekolah mengantisipasi kebosanan mengajar daring guru dengan gotong royong. Botol air mineral bekas bekal guru menumpuk. Setelah pot hias, ide membuat lampion corona muncul.
“Idenya muncul dari sampah botol yang banyak. Karena banyak guru bawa bekal air mineral ke sekolah. Kalau pot hias sudah banyak, lalu ada ide membuat lampion korona. Guru berinisiatif membuat lampion dan dipasang seperti di Pasar Gede, Solo saat Imlek. Jadi lampion ini sebagai pengingat adanya pandemi ini,” ungkap Kepala SMPN 1 Surakarta Viveri Wulandari di kantornya, Senin (25/1).
Kegiatan mendaur ulang sampah memang menjadi agenda bulanan bahkan mingguan. Sekolah memiliki program empat Jumat. Yakni Jumat ibadah, Jumat penguatan karakter berupa pembinaan wali kelas ke siswa atau kepala sekolah ke guru. Kemudian Jumat sehat dan Jumat bersih dengan kegiatan bersih-bersih dan membuat karya.
Siswa juga tak ketinggalan. Sebanyak 968 karya dari barang bekas di rumah disulap menjadi berbagai hiasan maupun barang berguna. Dan program mendaur ulang sampah ini selaras dengan visi sekolah. Bahkan melalui kegiatan ini, tenggang rasa dan semangat gotong royong guru tambah erat.
“Jadi pembuatan lampion korona beragam warna ini dibuat oleh guru. Kami bagi menjadi delapan kelompok. Masing-masing terdiri enam hingga tujuh orang. Jadi lebih cepat. Dua hari sudah jadi dan sudah dipasang,” katanya.
Pembagiannya, kelompok 1 bertugas membersihkan botol, kelompok 2 membuat ukuran, dan kelompok 3 memotong botol. Sedangkan kelompok 4 bertugas merangkai lampion. Kemudian kelompok 5 bertugas memasak kawatnya dan kelompok 6-7 menggantungkan karya. Bagi kelompok 8 bertugas mengecat botol.
Pembuatan lampion ini cukup mudah. Botol yang sudah dibersihkan, dicat dengan berbagai warna. Viveri mengatakan keragaman warna ini seperti pelangi. Menyimbolkan keragaman yang membentuk keindahan. Agar warga sekolah menanamkan toleransi, serta menjadikan budaya beragam sebagai kekuatan.
Kemudian, botol yang sudah dicat dikeringkan. Dilanjutkan dengan proses pemotongan. Pucuk lampion juga dipasang kawat. Baru dirangkai dan dipasang membetang. Kini sudah ada 70 lampion corona pelangi yang dipasang di berbagai tempat. Viveri mengaku akan menambah lagi lampion corona ini.
“Jadi pembuatannya tiap Jumat dan Sabtu. Karena di hari itu, guru lebih longgar mengajarnya. Selain maksimalkan lampion korona pelangi, sekolah akan meminta guru membuat daur ulang sampah dari rumah. Tidak kami batasi agar guru berkreasi. Dan akan dipamerkan bersamaan dengan karya para siswa setelah pembatasan kegiatan masyarakat (PKM) ini. Kemungkinan Februari nanti,” katanya. (rgl/bun) Editor : Perdana Bayu Saputra