KARANGASEM merupakan sebuah desa di Kecamatan Bulu. Jumlah penduduknya sekitar 3.346 jiwa. Di sana, telah dikembangkan objek wisata alam. Berupa hamparan perbukitan seribu.
“Lahan potensial di Desa Karangasem seluas 114 hektare, digunakan untuk sektor pertanian, budidaya udang galah, dan ikan nila. Sementara yang 30 persen lahan tandus berupa perbukitan,” terang Kepala Desa (Kades) Karangasem Bambang Minarno kepada Jawa Pos Radar Solo.
Lahan tandus yang dimaksud, tak lain Gunung Pegat. Puncak Gunung Pegat berada di ketinggian 200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dulunya, akses menuju puncak hanya berupa jalan setapak.
Terhitung mulai 2019, kawasan tersebut mulai dikembangkan jadi objek wisata. Libatkan pemdes, masyarakat, badan usaha milik desa (BUMDes), kelompok sadar wisata (pokdarwis), gabungan kelompok tani (gapoktan), dan lembaga lainnya.
Lewat pemihakan DD, secara bertahap jalan setapak dicor beton. Bahkan kini, sanggup dilalui truk. Sehingga wisatawan tak perlu lagi jalan kaki dari bawah ke puncak. “Kalau pengembangan sejak awal, totalnya tidak sampai Rp 500 juta,” imbuh kades.
Fasilitas apa saja yang ditawarkan untuk mengangkat pamor Gunung Pegat? Pertama, dibangun Moncong Dasamuka. Spot paling favorit untuk menikmati keindahan alam perbukitan dan hamparan sawah bak permadani hijau.
“Paling sering wisatawan bermalam di camping ground. Paginya, menikmati hamparan awan dan kabut tebal dari puncak. Kalau beruntung dan momentumnya pas, bisa menikmati sunrise yang berdampingan dengan puncak Gunung Lawu,” terang kades.
Wahana selanjutnya, yakni Watu Sepur. Cocok untuk berswafoto. Termasuk penambahan gazebo dan kolam renang khusus anak-anak. Bahkan tiap akhir pekan dan libur nasional, diadakan Pasar Rakyat Gunung Pegat. Menyajikan makanan kuliner khas pedesaan.
Pasar ini dikelola UPPKS TP PKK Desa Karangasem. Pengunjung bisa menikmati puluhan menu kuliner tradisional atau jajanan khas. Harganya cukup murah, tak lebih dari Rp 5.000 per porsi. “Ada aturan, dagangan yang dijual wajib olahan sendiri. Tidak boleh kulakan di tempat lain,” beber kades.
Masuk objek wisata Gunung Pegat, pengunjung hanya merogoh kocek Rp 2.000 per orang untuk tiket masuk. Sedangkan biaya parkir dibanderol Rp 2.000 untuk sepeda motor dan Rp 5.000 untuk mobil. Bagi yang ingin berenang, tiketnya sekitar Rp 5.000 per lembar.
“Wisata ini dikelola BUMDes Sekar Mandiri Desa Karangasem. Mampu menyokong pendapatan asli desa (PADes) hampir Rp 60 juta pada 2020. Kalau kotornya, sekitar Rp 150 juta an. Itu pun di masa pandemi. Kalau tidak pandemi, saya yakin lebih banyak lagi,” terang kades. (kwl/fer) Editor : Syahaamah Fikria