Kepala SMKN 5 Sukoharjo Sriyanta menjelaskan, launching dilakukan untuk meminta masukan dari berbagai pihak. Agar karya siswa bisa direvisi sebelum di-upload dan dilombakan. Untuk mencapai hasil karya terbaik.
“Supaya nanti ada masukan. Kalau waktunya mencukupi, bisa diedit lagi. Batas maksimal upload untuk lomba, 7 Agustus besok,” ungkap Sriyanta kepada Jawa Pos Radar Solo.
Film dokumenter yang dibuat, berdasarkan kisah nyata. Mencerikan seorang pelajar yang mengalami bullying. Karena tinggi badannya tidak seperti anak-anak yang lain. Akibatnya, anak tersebut lebih senang menyendiri dan tidak memiliki teman.
“Ceritanya, ada anak yang tubuhnya pendek. Baik di lingkungan rumah atau di sekolah, selalu mengalami bullying. Ini yang kami angkat,” bebernya.
Film ini berdurasi 5-6 menit. Makna yang terkandung di dalamnya, yakni ingin mengedukasi masyarakat. Bahwa mereka yang mempunyai keterbatasan fisik, harus tetap dihargai. Harus dianggap setara dengan yang lainnya. Mereka yang kondisinya berbeda, harus tetap dirangkul.
“Pembuatan film tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes) ketat. Kebutuhan syuting kan tidak memerlukan banyak orang. Tidak membuat kerumunan,” imbuhnya.
Video kedua, lebih ke cerita fiksi. Alurnya tidak jauh berbeda dengan film pertama. Menceritakan seorang guru yang merangkul anak-anak dengan keterbatasan fisik.
“Ke depan, kami sudah siapkan sineprak atau sinema ketoprak. Naskah sudah ada. Anak-anak yang main ketoprak juga sudah siap. Yang bikin filmnya juga sudah siap,” tandasnya.
Selain film, juga dikirim video Ketiga. Berupa tari Pangreksa Usada. Diiringi tembang Jawa, menceritakan tentang kondisi pandemi. “Tentang obat pandemi. Kisahnya tentang penjual jamu. Sukoharjo kan terkenal Kota Jamu,” katanya.
Keempat, video lagu campursari berbahasa Jawa berjudul SMKN 5 CJDW. “CJDW itu cerdas, jujur, displin, dan wirausaha,” bebernya. (kwl/fer/dam) Editor : Damianus Bram