Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Rumah Potong dan Pusat Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo Leni Sri Lestari menjelaskan, dalam pengecekan kesehatan hewan di Pasar Hewan Bekonang ditemukan empat sapi bergejala LSD. Tiga di antaranya dari daerah lain di luar Sukoharjo.
”Ada yang bentol-bentol dan demam, kami minta untuk pulang,” kata Leni, Rabu (24/1/2023).
Menurut Leni, sebelum dipulangkan, sapi-sapi tersebut diberikan pengobatan. Hal ini sebagai upaya mencegah penularan dan mencegah dampak yang lebih parah kepada sapi-sapi tersebut.
”Ya karena gejalanya kasat mata, ada bentol-bentol begitu. Jadi langsung terdeteksi,” katanya.
Veteriner Dinas Pertanian dan Perikanan, Erny Prasetyaningrum menjelaskan, LSD disebakan oleh gigitan nyamuk dan lalat. Sehingga menyebabkan kulit sapi bentol-betol.
”Gejala awal yang nampak, nafsu makan menurun. Bentol-bentol dan semakin banyak hingga 14 hari lebih. Jika sudah ada tanda itu, harus segera dilakukan pengobatan dan pencegahan agar tidak menular pada sapi lainnya,” tutur dia.
Tak hanya itu, dia menyebut penyakit LSD tidak mematikan. Lantaran hanya kulit yang diserang, berbeda dengan PMK yang bisa berakibat kematian pada sapi.
”Bahaya PMK karena penularannya lewat udara, sementara LSD ini yang diserang kulit dan bisa diobati. Tapi, bekas bentol-bentolnya tersebut memang tidak bisa pulih atau akan membekas. Ini menurunkan nilai jual sapi sapi ternak,” kata drh Erny.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo Bagas Windaryatno menjelaskan, rekapitulasi kasus LSD hingga Senin (23/1/2023) menjadi 52 ekor. Dengan rincian, 48 sakit, tiga dipotong paksa dan ada empat kasus baru.
”Totalnya 52 ekor. Masih sakit semua, belum ada yang sembuh,” tandasnya. (kwl/adi/dam) Editor : Damianus Bram