Etik menjelaskan, sedang mengejar pembangunan 12 sanggar yang sama. Karena targetnya, setiap kecamatan memiliki sanggar inklusi sendiri.
“Saat ini sudah sembilan gedung yang diresmikan, jadi tinggal tiga lagi. Kecamatan Mojolaban sudah selesai dibangun, tinggal diresmikan. Dua lainnya di Tawangsari dan Kartasura, baru proses pembangunan,” kata Etik.
Etik berharap sanggar tersebut dimanfaatkan dengan baik. Sebagai wadah untuk pelayanan ABK. “ABK butuh perhatian yang luar biasa, karena keterbatasannya dalam berbagai hal,” imbuh bupati.
Selain itu, Etik juga mengimbau kepada orang tua yang memiliki ABK, untuk tidak berkecil hati dan malu. Karena ABK adalah titipan Tuhan YME. Sehingga harus dirawat dengan baik
“Keberadaan sanggar inklusi sangat mendukung kebutuhan ABK, terkait tumbuh kembang mereka. Bisa dimanfaatkan untuk terapi kesehatan, pendidikan, dan lainnya,” pesan Etik.
Harus diaku, keberadaan sanggar inklusi bukan untuk mengobati ABK hingga sembuh total. Minimal, bisa mengembangkan kompetensi ABK. Apalagi ABK membutuhkan sosialisasi dengan anak sebaya maupun lingkungan sekitar.
“Sekali lagi pesan saya, jangan malu punya ABK. Jangan hanya di rumah saja. Karena ABK juga punya hak seperti anak yang lain. Punya hak bermain, belajar, dan lainnya,” beber Etik.
Ditanya anggaran pembangunan, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Sukoharjo Suparmin menyebut Sanggar Inklusi Wijaya Kusuma menelan Rp 200 juta. “Total anggaran pembangunan gedung sanggar inklusi di 12 kecamatan Rp 2,8 miliar,” urainya.
Sementara itu, Camat Sukoharjo Kota Havid Danang P.W. membenarkan selama ini kegiatan sanggar inklusi masih menumpang di gedung milik dinas sosial. “Dulu numpang, sekarang sudah dibangunkan gedung oleh ibu bupati. Matur nuwun. Di sini ada 30 ABK yang akan kami layani dengan maksimal,” bebernya. (kwl/fer/dam) Editor : Damianus Bram