Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Punden Kyai Lurah Guno Wijoyo, Bisa Dipindahkan dari Tengah Sungai Bengawan Solo setelah Tayuban

Iwan Kawul • Minggu, 28 Januari 2024 | 17:46 WIB
Punden Kyai Lurah Guno Wijoyo di Dusun Tambakboyo, Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo.
Punden Kyai Lurah Guno Wijoyo di Dusun Tambakboyo, Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo.

RADARSOLO.COM-Sebuah yoni berselimut tanah rumah rayap, hingga kini masih terjaga kelestarian oleh masyarakat Desa Tambakboyo, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo.

Dikenal sebagai Punden Kyai Lurah Guno Wijoyo. Di malam Jumat Kliwon (penanggalan Jawa) pada September, selalu diadakan ritual tayuban dengan iringan gamelan.

Bangunan berbentuk joglo nan estetik dengan arsitektur batu bata yang terekspos, berdiri anggun di halaman Balai Desa Tambakboyo.

Dibangun di masa pemerintahanan Kepala Desa (Kades) Tambakboyo Samsul Arifin, pada 2022-2023.

Di sini kades hanya mempercantik, karena joglo tersebut sebelumnya sudah berdiri kukuh.

Di dalam bangunan itu, terdapat sebuah yoni berselimut tanah rumah rayap. Dikenal dengan nama Punden Kyai Lurah Guno Wijoyo.

Yoni ini sudah masuk daftar benda cagar budaya (BCB). Sehingga sangat terjaga kelestariannya. Apalagi lokasinya di halaman balai desa.

Menurut penuturan para leluhur, batu tersebut awalnya berada di tengah Sungai Bengawan Solo. Jauh sebelum era penjajahan Hindia Belanda. Kemudian ada warga sekitar yang bermimpi. Dalam mimpinya, batu tersebut harus dipindahkan.

“Kemudian warga gotong royong memindahkan dari tengah Sungai Bengawan Solo. Namun gagal menggeser batu tersebut, meskipun sudah diangkat beramai-ramai,” papar Samsul, kemarin (27/1).

Tak lama, warga tersebut kembali mendapat wangsit dari mimpinya. Bahwa batu itu bisa dipindahkan. Syaratnya diiringi tarian tayub dan ledek, dengan iringan tabuhan gamelan di malam Jumat Kliwon.

“Tepat pada malam Jumat Kliwon, warga kembali gotong royong mengangkat batu itu. Diiringi beberapa penari tayub, lengkap dengan iringan musik gamelan dan ledek,” beber Samsul.

Ajaibnya, setelah alunan gamelan terdengar dan penari tayub beraksi, batu tersebut bisa diangkat oleh lima warga. “Dari sinilah asal usul ritual tayuban tiap malam Jumat Kliwon pada September oleh warga,” imbuhnya.

Kini, tradisi tersebut tetap terjaga hingga sekarang. Bahkan sebagaian warga mempercayai, tayuban akan membawa kelancaran dalam mengarungi kehidupan.

“Ada juga warga yang bermimpi, penunggu batu tersebut adalah Guno Wijoyo. Inilah asal usul penamaan Kyai Guno Wijoyo pada batu tersebut,” ujar Samsul. (kwl/fer)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#tawangsari #sukoharjo #BCB #Punden Kyai Lurah Guno Wijoyo