Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Selain Rubuha, Ini Pohon Yang Cocok Untuk Bertengger Burung Hantu Saat Berburu Hama Tikus Sawah

Iwan Kawul • Minggu, 4 Mei 2025 | 18:04 WIB
Burung hantu atau tyto alba di Sukoharjo dimanfaatkan untuk membasmi hama tikus di sawah.
Burung hantu atau tyto alba di Sukoharjo dimanfaatkan untuk membasmi hama tikus di sawah.

RADARSOLO.COM – Di balik hamparan hijau persawahan yang mengelilingi pinggiran Kota Sukoharjo, tersimpan ancaman serius bagi para petani: serangan hama tikus. Bukan hanya merusak, serangan yang datang dari hama pengerat ini bisa menggagalkan panen dalam skala besar.

“Daya rusak tikus yang habitatnya di bantaran dan lereng-lereng sungai itu sangat menyeramkan,” ujar Wisnu, salah seorang anggota Pelestari Burung Indonesia (PBI) Cabang Sukoharjo, Minggu (4/5).

Ia mengisahkan pengalamannya menyaksikan langsung kegagalan panen karena invasi tikus di area persawahan yang luas. Selama beberapa tahun terakhir, upaya ekologis telah dilakukan dengan burung hantu alias Tyto Alba yang dikembangkan sebagai predator alami tikus.

Burung hantu diberi rumah khusus bernama bubuha (rumah burung hantu) yang dipasang di berbagai titik.

Pemasangan rubuha alias rumah burung hantu di areal persawahan di Sukoharjo.
Pemasangan rubuha alias rumah burung hantu di areal persawahan di Sukoharjo.

Sukoharjo kini telah memiliki sekitar 300 rubuha, jumlah yang cukup masif untuk ukuran wilayah kabupaten. Namun pertanyaan mendasar tetap mengemuka, mengapa tikus masih saja merajalela, meski jumlah burung hantu terus bertambah?

Wisnu yang sejak kecil akrab dengan dunia burung dan memiliki keahlian dalam breeding berbagai spesies, termasuk Tyto Alba, menyampaikan analisisnya. Menurutnya, sekadar memasang rubuha tidak serta merta membuat burung hantu efektif membasmi tikus. Masalah utama ada pada karakter berburu Tyto Alba.

Baca Juga: Miris, Toko Kelontong Di Sukoharjo Edarkan Obat Keras Ilegal, Amankan Barang Bukti 1.857 Butir Obat

“Berbeda dengan elang yang berburu sambil terbang mengitari wilayah mangsa, Tyto Alba berburu dengan cara diam, bertengger di tempat tinggi untuk mengintai,” jelas Wisnu.

Menurut dia, di area persawahan yang terbuka lebar dan minim pohon atau tiang tempat bertengger, kemampuan Tyto Alba untuk mengintai jadi sangat terbatas.

“Kalau tidak ada tempat bertengger di tengah sawah, burung hantu hanya bisa mengandalkan pandangan dari pinggir. Sementara tikus-tikus banyak yang aktif di bagian tengah sawah,” lanjutnya.

Solusinya? Membangun sistem penunjang yang melampaui rubuha. Wisnu mengusulkan pemasangan tiang-tiang bertengger berbentuk huruf T setiap radius tertentu, atau menanam pohon-pohon ringan seperti turi yang tidak rimbun. Tanaman jenis ini tak akan mengganggu pertumbuhan padi karena tidak menutupi cahaya matahari, serta akarnya tak terlalu bersaing dengan padi dalam menyerap nutrisi.

“Burung hantu memang predator alami yang efektif, tapi mereka butuh kondisi yang menunjang untuk berburu secara maksimal. Rubuha saja tidak cukup, harus ada ekosistem penunjangnya,” tegas Wisnu.

Sejak Wisnu bergabung dengan komunitas PBI Sukoharjo, pendekatan teknis terhadap pelestarian dan pemanfaatan Tyto Alba menjadi semakin terstruktur. Komunitas yang sebelumnya bersifat informal kini mulai mendapat dukungan serius dari dinas terkait, bahkan dari beberapa BUMN dan organisasi non pemerintah yang peduli terhadap pertanian dan lingkungan.

Upaya kolektif ini bukan hanya tentang menyelamatkan hasil panen petani, tapi juga membangun kesadaran bahwa pertanian dan konservasi alam bisa berjalan beriringan – jika didukung dengan pendekatan yang tepat dan pemahaman mendalam tentang perilaku satwa. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
#Burung Hantu #Burung hantu predator alami tikus #Tyto Alba