RADARSOLO.COM - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukoharjo bergerak cepat menindaklanjuti aduan warga terkait perubahan warna air di Kali Samin.
Merespons laporan tersebut, DLH langsung melakukan pengecekan kondisi sungai dan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah sentra pengrajin alkohol di Bekonang, Kecamatan Mojolaban, serta Ngombakan, Kecamatan Polokarto.
Kepala DLH Sukoharjo, Agus Suprapto, mengatakan pihaknya telah mengambil sampel untuk mengecek kualitas limbah serta kandungan bahan organik dari aktivitas produksi alkohol di kawasan tersebut.
“Selasa saya cek untuk kualitas limbahnya, sama kandungan bahan organiknya, Mas. Baru kami uji lab di UNS dan Lab DLH,” kata Agus saat dikonfirmasi pada Kamis (24/7).
Namun, Agus menyebut bahwa kualitas air sungai secara keseluruhan belum diuji.
DLH masih menunggu hasil laboratorium terhadap limbah yang dibuang ke aliran sungai untuk mengetahui secara pasti dampaknya terhadap lingkungan.
Sebagai langkah konkret penanganan limbah, DLH akan menggelar pelatihan khusus pada Sabtu (26/7) mendatang, yang menyasar para pengrajin alkohol.
Pelatihan ini fokus pada pengelolaan vinasse atau limbah cair bioetanol (badek) yang selama ini dinilai belum optimal dalam pengelolaannya.
DLH menggandeng Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Hibah Grup Riset (PKM HGR) Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta, dalam kegiatan pelatihan ini.
Kolaborasi ini diharapkan mampu memberikan solusi berbasis ilmiah untuk penanganan limbah secara berkelanjutan.
“Limbah vinasse ini tidak hanya berdampak pada pencemaran jika tidak dikelola, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan dalam kerangka ekonomi sirkuler,” ungkap Agus.
Vinasse sendiri merupakan hasil samping dari proses fermentasi produksi bioetanol.
Limbah ini mengandung kadar Biochemical Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), dan Total Suspended Solid (TSS) yang tinggi, sehingga berpotensi mencemari lingkungan apabila dibuang langsung tanpa pengolahan.
Namun di sisi lain, vinasse juga menyimpan peluang ekonomi. Limbah ini bisa diolah menjadi pupuk organik, campuran media budidaya larva Black Soldier Fly (BSF), bahkan bahan dasar bioplastik.
“Kami berharap pelatihan ini bisa menjadi solusi konkret terhadap permasalahan limbah badek yang selama ini masih menjadi tantangan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi pengrajin bioetanol,” tegas Agus.
DLH juga mendorong agar pelaku usaha mikro bioetanol mulai menerapkan pendekatan ramah lingkungan dalam proses produksinya.
Hal ini dinilai penting guna mendukung visi pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Sukoharjo.
“Kalau pengelolaan limbah bisa dilakukan dengan benar, kita tidak hanya menjaga lingkungan, tapi juga bisa menciptakan nilai tambah ekonomi dari limbah itu sendiri,” pungkasnya. (kwl)
Editor : Nur Pramudito