RADARSOLO.COM – Mendukung program ketahanan pangan nasional, Polres Sukoharjo menggelar rapat koordinasi (rakor) lintas sektor bersama Badan Pusat Statistik (BPS) serta Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Sukoharjo, Rabu (30/7). Polres siap mendampingi dan mengawal langsung pelaksanaan program ini agar berjalan tepat sasaran.
Kapolres Sukoharjo AKBP Anggaito Hadi Prabowo menjelaskan, Polri berkomitmen mendukung kebijakan strategis pemerintah dalam mencapai swasembada pangan. Nantinya, pengawasan dan pendampingan dilakukan melalui jajaran polsek dan bhabinkamtibmas.
“Kami siap mendampingi dan mengawal langsung pelaksanaan program ini, agar berjalan tepat sasaran. Sinkronisasi data antara BPS, dinas pertanian, dan aparat wilayah menjadi kunci keberhasilan mendukung program nasional ini,” kata Anggaito.
Kepala Distankan Sukoharjo Bagas Windaryatno menambahkan, ada perbedaan data serta kendala koordinasi yang terjadi di lapangan. Maka distankan usul adanya penyamaan persepsi terkait target luas tanam jagung. Rinciannya, 2.220 hektare untuk jagung dan 4.270 hektare untuk lahan potensial.
“Fokus kami saat ini adalah Kecamatan Bendosari dan Polokarto, yang sebelumnya mengalami hambatan dalam pengajuan benih. Kami akan prioritaskan dua wilayah ini sebagai sentra tanam jagung. Kami berharap polsek ikut mengawal implementasinya,” beber Bagas.
Sementara itu, Kepala BPS Sukoharjo Nurul Choiriyati menekankan pentingnya akurasi data tanam dan hasil produksi. Ia menyoroti adanya selisih antara data hasil panen yang masuk ke Bulog, dengan luas tanam.
"Target kita 2.222 hektar untuk luas tanam, dan kepolisian memiliki peran penting dalam pengawasan distribusi sarana pertanian, serta pendampingan kepada petani. Supaya data dan pelaksanaan program bisa sinkron dan tepat sasaran,” tegasnya.
Ia juga mendorong para kapolsek untuk aktif memantau langsung wilayah masing-masing. Sekaligus mengecek distribusi sarana pertanian dan mengidentifikasi kendala di lapangan.
“Peran aktif Polri sangat penting. Tidak hanya untuk pengamanan distribusi sarana pertanian seperti benih dan pupuk, tapi juga memberikan penyuluhan dan edukasi kepada petani,” urainya.
BPS mencatat, realisasi tanam jagung belum mencapai target maksimal. BPS ikut mendorong agar lahan sawah yang tidak ditanami padi, bisa dialihfungsikan sementara untuk tanaman jagung saat musim penghujan.
“Pemerintah menargetkan produksi 3 juta ton jagung yang akan diserap oleh Bulog,” beber Nurul. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto