RADARSOLO.COM – Jajaran Polres Sukoharjo berkomitmen meningkatkan profesionalisme dan kesiapsiagaan anggotanya. Salah satunya melalui latihan menembak di lapangan tembak Jananuraga Polsek Polokarto, Kamis (2/10).
Tak sekadar pembinaan rutin, latihan ini ajang evaluasi kemampuan personel dalam penguasaan senjata api (senpi). Sekaligus sarana pembentukan mental dan kedisiplinan aparat kepolisian.
Kegiatan dipimpin Kapolres Sukoharjo AKBP Anggaito Hadi Prabowo. Dia menekankan, bahwa kemampuan menembak merupakan kompetensi dasar yang wajib dimiliki setiap anggota Polri. Menurutnya, penguasaan senpi bukan sekadar soal teknik, tetapi juga menyangkut tanggung jawab, ketelitian, dan etika penggunaan kekuatan saat bertugas.
“Latihan ini bukan hanya tentang akurasi peluru mengenai sasaran, tetapi juga tentang kedisiplinan, penguasaan diri, serta kesiapan menghadapi berbagai potensi ancaman di lapangan. Setiap personel harus memahami, bahwa senjata api adalah alat yang sangat vital dan penggunaannya harus disertai tanggung jawab tinggi,” tegas Anggaito.
Anggaito menegaskan pentingnya peran pengawasan dalam setiap sesi latihan. Seluruh penggunaan senjata, baik laras panjang maupun laras pendek wajib melalui prosedur pemeriksaan dan pengawasan ketat.
“Lakukan pengecekan secara detail. Jika ada pelanggaran, segera ambil tindakan tegas. Keselamatan dan kedisiplinan adalah prioritas utama,” imbuhnya.
Latihan kali ini dirancang lebih komprehensif. Sebelum sesi menembak dimulai, peserta menerima materi teori dari instruktur. Kemudian menjalani latihan drill dan latihan kering untuk memastikan penguasaan teknik dasar.
Selanjutnya, peserta diuji dalam dua metode latihan. Menembak senjata laras panjang SS1/V2 dengan posisi duduk dan berdiri dalam jarak 50 meter. Serta menembak jarak 20 meter dengan laras pendek seperti Canik, HS, dan Revolver.
Kegiatan ini menjadi momen penting untuk mengukur kesiapan personel, dalam menghadapi situasi nyata di lapangan. Menurut Anggaito, Polri saat ini dituntut untuk tidak hanya cepat tanggap dalam pelayanan, tetapi juga memiliki kemampuan taktis dan teknis mumpuni dalam setiap kondisi.
“Profesionalisme tidak hanya ditentukan oleh seberapa baik kita melayani masyarakat, tetapi juga oleh kemampuan dalam merespons situasi berisiko tinggi dengan tepat dan proporsional. Semua berawal dari latihan seperti ini,” tandasnya. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto