RADARSOLO.COM – Di tengah geliat pembangunan pedesaan yang semakin dinamis, Desa Sanggang, Kecamatan Bulu, Sukoharjo menunjukkan langkah maju. Mereka menghadirkan Argaloka Farm, sebuah kawasan wisata edukasi pertanian terpadu berbasis inovasi dan pemberdayaan ekonomi lokal.
Isata edukasi ini menempati lahan tanah kas Desa Sanggang. Di kawasan ini, dibangun greenhouse modern yang sudah mulai ditanami melon menggunakan teknologi nutrient film technique (NFT). Inisiatif ini digagas Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Argaloka, sebagai wujud pemanfaatan aset desa secara produktif dan berkelanjutan.
Konseptor BUMDes Argaloka Janu Hari Setiawan mengatakan, kehadiran Argaloka Farm bukan sekadar proyek pertanian. Melainkan strategi membangun ekosistem edukasi, wisata, dan ekonomi yang saling terhubung.
“Lahan kas desa dulu hanya digunakan untuk kegiatan konvensional. Kini kami optimalkan menjadi kawasan produktif yang bernilai ekonomi tinggi. Kami ingin Argaloka Farm menjadi pusat edukasi, sekaligus wisata keluarga yang menginspirasi masyarakat untuk mencintai pertanian modern,” kata Janu, Selasa (7/10).
Salah satu daya tarik utama Argaloka Farm adalah greenhouse melon yang menggunakan teknologi NFT. Sistem ini memanfaatkan aliran nutrisi cair yang terus bergerak di akar tanaman. Sehingga pertumbuhan melon menjadi lebih cepat, efisien, dan berkualitas tinggi.
“Melalui sistem NFT, kontrol nutrisi menjadi sangat presisi. Kami bisa memastikan tanaman mendapat asupan yang tepat, hasil panennya lebih seragam, dan efisiensi penggunaan air bisa mencapai 70 persen,” jelas Janu.
Selain efisiensi, greenhouse juga memungkinkan budi daya sepanjang tahun tanpa bergantung pada musim. Dengan demikian, potensi hasil panen melon bisa dimaksimalkan dan membuka peluang pasar yang lebih luas.
Selain itu, juga dihadirkan omah jamur. Berupa wisata edukasi budi daya jamur tiram. Di sini, pengunjung bisa melihat langsung proses budi daya. Mulai dari tahap inkubasi hingga panen, bahkan mencicipi hasil olahannya secara langsung.
“Wisata jamur ini kami rancang bukan hanya untuk rekreasi, tapi juga sarana belajar. Harapannya, masyarakat bisa termotivasi untuk memulai usaha serupa di rumah,” tutur Janu.
Program ini sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga sekitar. Baik melalui penjualan hasil panen maupun olahan jamur.
Menariknya lagi, wisatawan juga akan dimanjakan edukasi budi daya ayam petelur skala rumahan. Program ini dirancang agar masyarakat dapat memanfaatkan lahan terbatas di rumah masing-masing, menjadi sumber penghasilan tambahan.
“Tidak semua orang punya lahan luas. Karena itu kami ingin mengedukasi warga, bahwa usaha kecil seperti ayam petelur pun bisa sangat menjanjikan jika dikelola dengan benar,” papar Janu.
Kehadiran Argaloka Farm menjadi bukti nyata, bagaimana potensi tanah kas desa dapat ditingkatkan melalui konsep kreatif dan kolaboratif. Tak hanya menguatkan ketahanan pangan lokal, kawasan ini juga diharapkan menjadi magnet baru wisata edukasi pertanian di Sukoharjo.
“Visi kami ke depan adalah menjadikan Argaloka Farm sebagai living laboratory bagi siapa pun yang ingin belajar pertanian modern. Dari anak-anak sekolah hingga pelaku usaha. Ini bukan sekadar tempat wisata, tapi juga pusat inovasi desa,” tegas Janu. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto