RADARSOLO.COM - Di tengah kesibukan mengabdi sebagai kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah Kertonatan, Kecamatan Kartasura, Sukohajo, M. Rofi Imtihan selalu meluangkan waktu diri untuk misi kemanusiaan. Menjadi driver ambulans.
Fajar belum sepenuhnya merekah, ketika satu unit ambulans melaju perlahan meninggalkan sebuah rumah di Kecamatan Kartasura. Di balik kemudi, seorang pria memanjatkan doa singkat sebelum menekan pedal gas.
Beberapa jam berselang, ia sudah mengenakan kemeja rapi. Berdiri di depan siswa dan siswi, memimpin sebuah MI swasta setingkat sekolah dasar (SD).
Pagi itu, perannya berbeda. Ia bukan sekadar kepala sekolah, melainkan pengantar harapan. Menghubungkan kehidupan, kemanusiaan, dan pengabdian dalam satu perjalanan sunyi.
Sosok tersebut tak lain Muh. Rofi Imtihan. Kepala MI Muhammadiyah Kertonatan yang menjadikan hidupnya sebagai teladan tentang makna melayani umat.
Tiap pagi saat jadwal pembelajaran berlangsung, Rofi selalu berdiri tegap di halaman MI Muhammadiyah Kertonatan. Senyuman khasnya tak henti menyapa satu per satu siswa yang memasuki gerbang sekolah.
Di waktu luang, terutama saat libur sekolah, Rofi lebih banyak disibukkan di balik kemudi ambulans. Entah mengantarkan pasien yang sakit atau jenazah, menembus jarak dan waktu demi misi kemanusiaan.
Hingga kini ia tercatat sebagai Koordinator Solo Raya Pengurus Ambulans Muhammadiyah Jawa Tengah. Selain itu, nama Rofi juga tercatat dalam jajaran pengurus Forum Ambulans Sukoharjo Bersatu (FAST).
Masih belum cukup, Rofi juga aktif dalam pengurus bidang sosial LazisMu Kartasura, anggota Majelis PKU PCM Kartasura, ketua Badan Kerjasama Kepala Sekolah Muhammadiyah (BKKSM) Sukoharjo, hingga pengurus LRB MDMC Sukoharjo. Beragam amanah itu bertemu pada satu titik: melayani masyarakat.
Pengalaman paling membekas bagi Rofi, yakni saat pandemi Covid-19 melanda. Ia mengenang masa-masa ketika ambulans harus siaga 24 jam. Per hari, ia rata-rata melayani empat pemakaman jenazah terkonfirmasi Covid-19. Dalam kurun empat bulan, lebih dari 70 jenazah ditangani di tiga kecamatan.
“Tiap hari saya dan teman-teman melayani, bahkan sampai dini hari. Semua tetap semangat. Alhamdulillah sehat-sehat semua,” kenang Rofi.
Di tengah tingginya risiko terpapar Covid-19. solidaritas dan keikhlasan menjadi bahan bakar utama bagi Rofi dkk. Sebagai koordinator, ia juga terbiasa membagi peran.
Saat tugas dinas sekolah tak bisa ditinggalkan, posisi driver ambulans diserahkan ke kru lain yang siaga. Jika tidak ada yang menggantikan, ia melempar tugas tersebut ke grup komunitas ambulans lainnya.
“Saya masih aktif sebagai relawan. Tapi sekarang, saya jadi driver ambulans hanya di waktu luang atau saat libur sekolah saja,” imbuh Rofi.
Menjalani tugas kemanusiaan, jarak tempuh bukan halangan bagi Rofi. Ia bahkan pernah mengantar sampai Pacitan dan Ngawi, Jawa Timur.
“Kalau tujuannya lebih jauh lagi, saya tugaskan kru lain. Terpenting adalah memastikan layanan kemanusiaan tetap berjalan, entah siapa pun yang berada di balik kemudi,” bebernya.
Kisah dan perjuangan Rofi memberi teladan bagi siswa dan siswinya. Tanpa ceramah panjang lebar, anak didiknya belajar banyak tentang empati, kepemimpinan, dan keberanian kepala sekolah.
“Menurut saya, pendidikan bukan hanya urusan buku dan kurikulum. Melainkan juga keberpihakan nyata kepada sesama,” prinsipnya.
Berkat sikap teladan Rofi, tak mengherankan MI Muhammadiyah Kertonatan menjelma menjadi sekolah unggulan. Sekolah ini menyabet berbagai predikat bergengsi. Mulai dari Sekolah Adiwiyata tingkat Provinsi Jawa Tengah, Sekolah Sehat, Sekolah Ramah Anak, hingga Sekolah Tanggap Bencana.
Prestasi itu mencerminkan nilai yang terus ditanamkan Rofi. Bahwa pendidikan karakter harus hadir dalam tindakan nyata, bukan sekadar slogan di dinding kelas. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto