RADARSOLO.COM - Di Tengah viralnya video yang menuduh pedagang es gabus curang oleh anggota TNi dan POlri, justru jajanan tradisional ini kembali naik daun. Dari dapur sederhana di Dusun Tegal Rejo, Desa Pranan, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, Sari Purwasanti kebanjiran pesanan.
Usaha es gabus rumahan yang ia jalani sejak tujuh tahun lalu, mendadak laris manis. Semua berawal dari ide sederhana.
Saat berkunjung ke car free day (CFD) Solo Baru, mata Sari tertuju pada penjual es gabus. Saat itu dia langsung kepikiran. Di rumah ada kulkas, kenapa tidak dimanfaatkan untuk usaha? Dari percobaan kecil itulah usaha es gabusnya mulai tumbuh.
“Awalnya cuma coba-coba. Di rumah ada kulkas, terus kepikiran kenapa nggak dipakai buat produksi. Saya nyoba bikin, terus saya online-kan. Ternyata peminatnya banyak,” ujar Sari saat ditemui di rumah produksinya di RT 4 RW 3 Tegal Rejo.
Dari percobaan kecil itulah roda usaha mulai berputar. Dia kemudian mendapatkan pelatihan, pendampingan, hingga bantuan modal dari Dinas Koperasi UMKM dan Perdagangan Kabupaten Sukoharjo.
Isu miring soal es gabus berbahan spons dia bantah tegas. Bahan es gabus justru sangat sederhana. “Bahannya tepung hong kue, gula pasir, vanili, sama pewarna kue. Masaknya dua jam, pembekuan 24 jam sudah jadi,” ungkapnya.
Ketahanan es gabus pun wajar, sekira enam jam di dalam box styrofoam atau termos, dan mulai mencair setelah satu jam di suhu ruang.
Alih-alih merugikan, video viral yang menuding es gabus “mirip spons” justru membawa berkah. Rasa penasaran publik membuat pesanan melonjak tajam. “Alhamdulillah malah naik. Banyak yang penasaran, terus banyak yang mau jadi reseller,” tutur Sari.
Dalam sebulan, dia mampu memproduksi 5.000–6.000 es gabus dengan keuntungan bersih sekitar Rp 3 juta per bulan. Semua dikerjakan berdua bersama suami. Pasarnya kini meluas hingga Solo Raya, Ponorogo, Bantul, hingga Madura. Reseller tetap mencapai 50 orang, sementara reseller tidak tetap jumlahnya bisa ratusan.
“Biasanya mereka coba dulu, ternyata laku, terus kulak lagi. Apalagi setelah viral itu, banyak yang pengin jualan,” tutur Sari.
Dari kulkas rumah yang dulu hampir tak terpakai, Sari membuktikan bahwa ketekunan dan keberanian mencoba bisa mengubah usaha kecil menjadi peluang besar. (*/nik)
Editor : fery ardi susanto