RADARSOLO.COM - Kapolres Sukoharjo AKBP Anggaito Hadi Prabowo mengimbau masyarakat, khususnya remaja agar tidak melakukan aksi perang sarung di bulan Ramadan 1447 Hijriah.
Imbauan tersebut disampaikan Rabu (18/2), menyusul peristiwa tawuran di Kecamatan Grogol, belum lama ini.
Kapolres menegaskan, perang sarung yang awalnya dikenal sebagai permainan tradisional, justru kerap memicu aksi tawuran yang membahayakan keselamatan.
Bahkan dalam sejumlah kasus, sarung dimodifikasi sedemikian rupa sehingga berpotensi menimbulkan luka serius.
“Kami mengimbau masyarakat, terutama anak-anak dan remaja, untuk tida perang sarung. Tradisi yang awalnya permainan, jangan sampai berubah menjadi tindakan yang merugikan dan melanggar hukum,” tegasnya.
Anggaito menambahkan, polisi baru saja mengamankan 17 anak di bawah umur yang terlibat perang sarung di perbatasan Kota Solo dan Sukoharjo.
Peristiwa tersebut terjadi Selasa (17/2) dini hari di Kampung Sawah, Kecamatan Grogol. Dari pendataan, tiga anak diduga sebagai korban dan 14 lainnya sebagai pihak yang terlibat penyerangan.
Seluruhnya masih berusia di bawah 18 tahun. Kejadian bermula dari komunikasi antar kelompok yang sepakat bertemu, sebelum akhirnya tawuran pecah menggunakan sarung yang telah dimodifikasi.
Beruntung, warga sekitar sigap melerai sehingga tidak sampai menimbulkan korban luka berat. Polisi pun bergerak cepat mengamankan para anak guna mencegah potensi eskalasi dan dampak yang lebih serius.
Kapolres menekankan, fenomena perang sarung kerap terjadi pada malam hari dan meningkat saat Ramadan. Karena itu, ia meminta peran aktif orang tua dalam mengawasi aktivitas anak, terutama saat malam hari.
“Orang tua harus lebih peduli terhadap pergaulan dan aktivitas anak-anaknya. Pastikan anak berada di rumah pada jam yang wajar dan tidak terlibat kegiatan membahayakan diri sendiri maupun orang lain,” ujarnya.
Selain pengawasan keluarga, pihak kepolisian juga akan meningkatkan patroli di titik-titik rawan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.
Kapolres berharap seluruh elemen masyarakat dapat bersama-sama menjaga situasi kamtibmas agar tetap aman dan kondusif menjelang Ramadan.
“Ramadan seharusnya menjadi momentum meningkatkan ibadah dan kebersamaan, bukan diwarnai aksi kekerasan. Mari kita jaga anak-anak agar tidak terjerumus perbuatan yang merugikan masa depan mereka,” pungkasnya. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto