RADARSOLO.COM - Fenomena yang populer disebut sebagai “Parade Planet” akan menghias langit Solo Raya pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Beragam aplikasi astronomi memang menampilkan hampir seluruh anggota tata surya, seolah berbaris rapi di satu garis.
Dan yang jadi primadona, yakni konjungsi bulan dan jupiter di malam hari.
Namun menurut Kepala Pusat Astronomi Assalaam (CASA) AR Sugeng Riadi, realitas pengamatan di Solo Raya tidak sepenuhnya sama dengan simulasi digital tersebut.
Sugeng menjelaskan, secara astronomis memang terjadi konfigurasi planet yang berada pada rentang bujur langit yang relatif berdekatan.
Akan tetapi, dari perspektif pengamat di Solo, Sukoharjo, Klaten, dan sekitarnya, sebagian besar planet tersebut sudah lebih dulu tenggelam di bawah ufuk barat, sebelum langit benar-benar gelap.
“Yang sering terjadi adalah masyarakat melihat peta langit di aplikasi, lalu membayangkan semua planet bisa terlihat bersamaan di malam hari. Padahal, secara posisi aktual terhadap matahari dan cakrawala lokal, tidak semuanya bisa kita saksikan,” ujarnya.
Sugeng menegaskan, faktor waktu terbenam matahari, ketinggian sudut planet terhadap ufuk, serta kondisi polusi cahaya di Solo Raya sangat menentukan keberhasilan pengamatan.
Primadona malam berupa konjungsi bulan dan jupiter, menurut Sugeng, bisa dinikmati publik setelah senja.
Planet raksasa tersebut akan tampak sebagai titik cahaya kuning terang yang stabil, tidak berkedip seperti bintang.
“Jupiter akan terlihat sangat mencolok karena magnitudonya terang dan posisinya cukup tinggi. Ia akan tampak berdekatan dengan bulan, sehingga menjadi pasangan paling estetis di langit malam,” jelasnya.
Waktu terbaik untuk mengamati fenomena ini diperkirakan mulai pukul 18.30 WIB hingga menjelang tengah malam.
Pada rentang waktu itu, bulan dan jupiter akan mendominasi langit bagian barat hingga tengah.
Sugeng menyebut momen ini sangat ideal untuk pengamatan publik maupun astrofotografi sederhana menggunakan kamera ponsel yang dipadukan tripod.
Sementara itu, saturnus masih bisa disaksikan sesaat setelah matahari terbenam sekira pukul 18.00 WIB. Namun, jendela waktunya sangat terbatas.
“Saturnus posisinya sudah sangat rendah di ufuk barat. Kita mungkin hanya punya waktu 15-30 menit setelah sunset, sebelum ia benar-benar tenggelam atau tertutup bangunan dan kabut polusi cahaya,” kata Sugeng.
Ia menyarankan pengamat untuk mencari lokasi dengan pandangan ufuk barat yang terbuka, seperti area persawahan atau dataran tinggi, agar peluang melihat saturnus lebih besar.
Dalam simulasi peta langit, uranus tampak berada cukup tinggi dan relatif dekat dengan jupiter. Namun, Sugeng mengingatkan bahwa uranus tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.
“Cahayanya sangat redup. Minimal perlu binokular yang mumpuni, atau lebih ideal lagi teleskop. Dengan kondisi langit Solo Raya yang memiliki polusi cahaya cukup signifikan, uranus praktis tidak akan terlihat tanpa alat bantu optik,” terangnya.
Ia menambahkan bahwa bagi pegiat astronomi yang memiliki teleskop, momen ini tetap menarik untuk menguji kemampuan instrumen dan ketelitian dalam navigasi langit malam.
Adapun merkurius, venus, nars, serta neptunus secara teknis memang berada dalam rentang wilayah langit yang sama.
Namun dari sudut pandang bumi, planet-planet tersebut sudah berada di bawah cakrawala sebelum Matahari benar-benar terbenam, atau terlalu dekat dengan posisi matahari sehingga tertelan silau cahaya senja.
“Sebagian dalam kondisi konjungsi dengan matahari. Artinya, mereka berada sangat dekat dengan natahari di langit siang. Tanpa peralatan khusus dan filter surya yang aman, mustahil untuk diamati,” tegas Sugeng.
Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak pernah mencoba mengarahkan teleskop ke arah matahari tanpa filter khusus, karena berisiko merusak mata secara permanen.
Sugeng menekankan bahwa fenomena 28 Februari 2026 menjadi pengingat penting bahwa simulasi digital adalah representasi matematis posisi benda langit, bukan jaminan visibilitas dari lokasi tertentu.
“Apa yang terlihat di layar belum tentu sama dengan apa yang bisa kita lihat dengan mata. Faktor geografis, waktu, dan kondisi atmosfer sangat berpengaruh,” katanya.
Bagi masyarakat Solo Raya, malam tersebut bukanlah tentang parade banyak planet yang berjajar dramatis, melainkan tentang keindahan bulan dan jupiter yang berdampingan mesra, ditemani sisa cahaya saturnus di batas cakrawala.
“Justru di situlah letak keindahannya. Astronomi mengajarkan kita untuk memahami konteks ruang dan waktu. Tidak semua yang mungkin secara teori bisa terlihat secara praktis,” pungkasnya.
Melalui momentum ini, Pusat Astronomi Assalaam mengajak masyarakat untuk tetap antusias mengamati langit dengan ekspektasi yang tepat. Seperti slogan yang terus digaungkan CASA, “Bersama CASA, Mengintip Gerbang Semesta.” (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto