RADARSOLO.COM – Rabu (15/4) menjadi hari kelabu bagi Solo Raya. Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur sejak Selasa sore (14/4), menyebabkan banjir di tujuh kabupaten/kota.
Dampak paling parah terjadi di Kabupaten Sukohajo, satu orang meninggal dunia dan ribuan jiwa terpaksa diungsikan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo Ariyanto Mulyatmojo menjelaskan, tercatat 4.068 jiwa terdampak banjir.
Dari jumlah tersebut, 1.917 jiwa terpaksa diungsikan ke lokasi yang lebih aman.
Banjir melanda Kecamatan Grogol, Baki, Kartasura, Gatak, dan Mojolaban. Disebabkan luapan sungai dan saluran air, yang tak mampu menampung tingginya curah hujan yang turun lebih dari enam jam.
Baca Juga: Unik! SPPG Bakalan Sukoharjo Siapkan Menu Tongseng Domba Untuk MBG
“Saat ini kami masih melakukan asesmen. Data yang ada masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah,” jelas Ariyanto.
Ariyanto menambahkan, 294 rumah di 13 desa terendam banjir. Bahkan seorang warga dilaporkan meninggal dunia. Sedangkan kerugian materi masih dalam proses pendataan.
Baca Juga: Ruas Sukoharjo-Solo Via Tanjunganom dan Joyontakan Macet, Polisi Berlakukan Contra Flow
Wilayah terdampak paling parah, di antaranya Desa Manang, Kecamatan Grogol akibat luapan Kali Mranggen. Kemudian di Kecamatan Grogol, banjir dipicu luapan Kali Pepe, Kali Kembang, dan Kali Janes.
“Selain permukiman, banjir juga berdampak pada fasilitas umum. Termasuk dua tempat ibadah dan puluhan SD hingga SMP di beberapa kecamatan,” jelas Ariyanto.
BPBD bersama TNI/Polri, relawan, dan berbagai instansi terkait telah melakukan langkah penanganan darurat. Di antaranya asesmen, evakuasi warga, serta distribusi bantuan logistik seperti matras dan selimut ke titik-titik pengungsian.
“Kami terus berkoordinasi dengan semua pihak dan melakukan evakuasi warga yang masih berada di lokasi rawan. Prioritas utama adalah keselamatan warga,” tegasnya. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto