RADARSOLO.COM – Kelurahan Joho, Kecamatan Sukoharjo Kota sering jadi langganan banjir saat hujan deras dengan intensitas tinggi melanda.
Hasil asesmen, banjir disebabkan luapan sungai di kawasan sekitar yang mengalami sedimentasi. Selain itu, juga disebabkan bangunan milik warga yang berdiri di bantaran sungai.
Solusi mengatasi banjir sudah diupayakan dengan pengerukan sedimentasi sungai sepanjang 1 kilometer (km), Kamis (23/4). Pengerukan fokus pada sisi utara Terminal Sukoharjo, hingga belakang Perumahan Griya Mandira Village 3.
Ketua Tim Kerja Pelaksana Pengembangan Sumber Daya Air, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Sukoharjo Ade Surya menjelaskan, pengerukan sedimentasi untuk memperlancar aliran air sungai. Di sini DPUPR menerjunkan satu unit alat berat.
“Ini tahap pertama. Tahap kedua nanti sampai ke timur kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sukoharjo sepanjang 500 meter. Sedimentasi dikeruk air tidak banjir meluap ke permukiman,” jelas Ade.
Ade menambahkan, tidak menangani persoalan sosial yang muncul di sekitar lokasi pengerukan. Ini kaitannya dengan bangunan liar di bantaran sungai. “Kami tidak berani bongkar bangunan,” ujarnya.
Di sisi lain, Camat Sukoharjo Kota Nanang Syarifudin mengaku pengerukan sedimentasi atas usulan warga Joho Baru. “Warga Joho Baru sering kebanjiran. Lurah Joho kami minta membuat proposal untuk penanganan banjir kepada bupati. Maka dari DPUPR hanya pengerukan sedimentasi sebagai langkah penanganan sementara,” jelasnya.
Baca Juga: Persiapan May Day, Simulasi Tangkal Huru Hara Libatkan 519 Personel Gabungan
Terkait bangunan liar di bantaran sungai, Nanang mengaku akan dimusyawarahkan dulu dengan warga. “Karena ini juga bagian dari penanganan banjir, sebaiknya koordinasi dulu dengan masyarakat,” tandasnya.
Sementara itu, warga Joho Baru keluhkan bangunan liar yang berdiri di bantaran sungai, di sisi barat terminal. Bangunan ini juga diklaim menjadi salah satu faktor penyebab banjir.
“Di sisi barat terminal di sepanjang sungai, tidak ada penertiban bangunan liar. Padahal banguan itu berdiri bukan di tanah pribadi. Sama seperti yang di samping perumahan. Tapi kenapa yang ditertibkan cuma di perumahan,” ujar warga yang enggan disebut namanya.
Kendati demikian, ia mengapresiasi upaya pengerukan sedimentasi sungai. “Kalau pengerukan kami setuju. Tapi penertiban bangunan ini tidak adil. Di sisi selatan ditertibkan 2,5 meter dari sungai. Tapi di depan rumah saya sampai 4 meter,” keluhnya. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto