PMI Sukoharjo Punya Alat Penyaring Darah Canggih Seharga Rp 3 Miliar, Masuk Deretan Paling Modern Di Jateng
Iwan Kawul• Selasa, 28 April 2026 | 11:14 WIB
Alat uji saring Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD), menggunakan metode Chemiluminescence Immunoassay (CLIA) Alinity di PMI Sukoharjo. (Iwan Kawul/Radar Solo)
RADARSOLO.COM – Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Sukoharjo terus bertransformasi dengan mengadopsi teknologi medis terkini, guna meningkatkan kualitas pelayanan darah bagi masyarakat.
Modernisasi dilakukan dengan menghadirkan alat uji saring Infeksi Menular Lewat Transfusi Darah (IMLTD), menggunakan metode Chemiluminescence Immunoassay (CLIA) Alinity, yang masuk deretan teknologi tercanggih di Jawa Tengah.
Ketua PMI Sukoharjo dr. Kunari Mahanani, Selasa (27/4), mengatakan, penggunaan alat otomatisasi terbaru tersebut membuat proses pemisahan komponen darah seperti trombosit, plasma, dan sel darah merah berjalan lebih cepat, higienis, dan akurat.
“Dengan mesin otomatisasi terbaru ini, proses pemisahan komponen darah bisa lebih cepat dan steril. Teknologi ini mampu menyaring komponen darah dengan tingkat akurasi tinggi, sehingga kualitas darah tetap terjaga hingga sampai ke rumah sakit maupun fasilitas kesehatan lainnya,” ujarnya.
Menurut Kunari, alat CLIA Alinity tersebut merupakan salah satu perangkat paling modern yang saat ini digunakan di Jawa Tengah, dan PMI Sukoharjo menjadi salah satu daerah yang telah mengoperasikannya.
Tak hanya mempercepat proses, alat tersebut juga memperketat tahapan skrining penyakit pada darah donor. Sistem pemeriksaan yang lebih sensitif dan sesuai standar internasional membuat keamanan darah bagi pasien penerima transfusi semakin terjamin.
“Modernisasi ini bukan hanya soal alat, tetapi soal keselamatan. Kami bisa memastikan stok darah di Sukoharjo terpantau secara real-time dan proses skrining penyakit jauh lebih ketat dengan standar internasional,” jelasnya.
Nilai investasi alat tersebut mencapai lebih dari Rp 3 miliar. Namun, PMI Sukoharjo tidak membeli langsung perangkat tersebut.
Sistem yang digunakan adalah pinjam pakai dari pihak ketiga, dengan konsekuensi PMI membeli reagen pemeriksaan dari penyedia alat tersebut.
“Alat ini dimodali oleh pihak ketiga melalui sistem pinjam pakai. Jadi kami tidak membeli alatnya, tetapi membeli reagen untuk operasional pemeriksaan dari pihak penyedia,” terang Kunari.
Kunari berharap dengan adanya modernisasi ini, masyarakat semakin percaya terhadap kualitas pelayanan PMI sekaligus semakin antusias untuk mendonorkan darahnya secara rutin.
“Harapannya, masyarakat Sukoharjo semakin yakin bahwa darah yang didonorkan benar-benar dikelola dengan aman dan profesional. Donor darah bukan hanya membantu sesama, tetapi juga menjadi upaya nyata menyambung nyawa orang lain,” tandasnya. (kwl/fer)