RADARSOLO.COM – Potensi kekeringan ekstrem, dampak fenomena El Nino Godzilla masih menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian di Kabupaten Sukoharjo.
Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Sukoharjo mencatat sekitar 6.516 hektare lahan pertanian di enam kecamatan berpotensi mengalami kekeringan dan membutuhkan penanganan cepat melalui bantuan irigasi perpompaan maupun sumur dalam.
Kepala Distankan Sukoharjo Bagas Windaryatno mengatakan, Kota Makmur memiliki Luas Baku Sawah (LBS) mencapai 20.085 hektare, dengan total standing crop padi saat ini seluas 14.573 hektare.
Namun, kondisi cuaca ekstrem yang dipengaruhi El Nino Godzilla membuat ribuan hektare sawah terancam kekurangan pasokan air, terutama di wilayah-wilayah yang didominasi lahan tadah hujan.
Baca Juga: Hadapi El Nino Gozilla, Sukoharjo Digelontor Bantuan Pompa Air
“Potensi lahan yang terancam kekeringan mencapai 6.516 hektare yang tersebar di enam kecamatan. Salah satu wilayah yang cukup terdampak adalah Kecamatan Bulu,” ujar Bagas, Jumat (1/5).
Menurutnya, bantuan irigasi perpompaan (Irpom), pompa air, pipanisasi, hingga sumur dalam menjadi kebutuhan sangat mendesak untuk menjaga produktivitas pertanian dan mencegah gagal panen saat musim kemarau.
Di Kecamatan Bulu, tepatnya pada Gapoktan Rukun Tani Desa Bulu, terdapat sawah 152 hektare yang terdiri dari empat kelompok tani.
Baca Juga: Sukoharjo Dijanjkan 50 Unit Pikap KDMP, Tapi Yang Datang Cuma Satu
Sebagian besar lahan merupakan sawah tadah hujan, sementara sebagian lainnya merupakan lahan irigasi teknis yang masih membutuhkan dukungan pipanisasi.
“Dengan bantuan pompa air di beberapa titik serta pipanisasi, diharapkan dapat mengairi lebih dari 35 hektare lahan yang saat ini mengalami kekeringan,” jelasnya.
Bagas merinci, Kelompok Tani Marsudi Tani memiliki 34 hektare lahan tadah hujan dengan 20 hektare terdampak kekeringan. Saat ini kelompok tersebut telah mendapatkan bantuan Irpom, namun masih membutuhkan tambahan satu titik Irpom dari air tanah atau sumur dalam.
Kemudian Kelompok Tani Bina Tani memiliki 43 hektare lahan tadah hujan. Bantuan aliran Irpom yang ada baru mampu mengairi 15 hektare, sehingga masih terdapat 28 hektare lahan yang membutuhkan tambahan Irpom air tanah atau sumur dalam.
Sementara itu, Kelompok Tani Ngrukti Mukti yang memiliki 36 hektare lahan tadah hujan membutuhkan dua unit pompa air berukuran 4 dim serta satu unit Irpom air tanah atau sumur dalam.
Adapun Kelompok Tani Dewi Sri dengan luas 30 hektare lahan irigasi teknis dan 9 hektare setengah teknis, saat ini membutuhkan dukungan pipanisasi agar distribusi air ke lahan pertanian dapat berjalan optimal.
Baca Juga: Wali Kota Solo Temui Bupati Sukoharjo, Respati: Politik Isih Suwe
Bagas menegaskan, keberadaan bantuan irigasi sangat penting untuk menjaga ketahanan pangan daerah sekaligus memastikan petani tetap dapat melakukan tanam pada musim kemarau.
“Kalau kebutuhan air ini tidak segera dipenuhi, risiko puso atau gagal panen sangat besar. Karena itu bantuan irigasi perpompaan dan sumur menjadi sangat urgent agar produksi padi tetap terjaga,” tandasnya. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto