Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Calon Jamaah Haji Sukoharjo Didominasi Risiko Tinggi, Pendampingan Diperketat

Iwan Kawul • Rabu, 6 Mei 2026 | 13:02 WIB
Pamitan calon jamaah haji asal Kabupaten Sukoharjo di Graha Satria Praja, Rabu (6/5). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
Pamitan calon jamaah haji asal Kabupaten Sukoharjo di Graha Satria Praja, Rabu (6/5). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
 
RADARSOLO.COM - Pemberangkatan calon jamaah haji (CJH) asal Kabupaten Sukoharjo tahun 1447 Hijriah atau 2026 menjadi perhatian khusus.
Sebab mayoritas CJH masuk kategori risiko tinggi (risti), baik ringan, sedang, hingga berat.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Kantor Kementerian Haji Umroh Kabupaten Sukoharjo, total CJH tahun ini mencapai 754 orang.
Terdiri dari 750 jamaah reguler plus 4 Petugas Haji Daerah (PHD). Mereka terbagi dalam beberapa kelompok terbang (kloter), yakni Kloter 33, 39, 49, 62, 63, dan 64 SOC.
Baca Juga: Sampah Kotori Sungai dan Jalur Tengkorak Rawan Kecelakaan, Warga Gawok Sukoharjo Sambat Polisi
Dari jumlah tersebut, empat kloter utama yakni Kloter 62, 63, 64, dan 67 menjadi kloter reguler, dengan sebagian jamaah bergabung bersama Kabupaten Klaten dan Sragen. Adapun Pemberangkatan calhaj sendiri pada tanggal 12 Mei 2026.
Namun yang menjadi sorotan adalah kondisi kesehatan jamaah. Pada Kloter 63 misalnya, jumlah jamaah risiko tinggi sangat signifikan, terdiri dari 106 risiko tinggi berat, 62 risiko sedang, dan 93 risiko ringan, sementara hanya 93 jamaah yang tergolong non-risiko tinggi. Bahkan terdapat 14 jamaah pengguna kursi roda.
Baca Juga: Rumah Produksi Sangkar Burung di Mojolaban Sukoharjo Terbakar, Satu Orang Luka
Hal serupa juga terlihat di Kloter 64, di mana jamaah non-risiko tinggi hanya 106 orang, sedangkan sisanya didominasi risiko ringan (94 orang), sedang (61 orang), dan berat (35 orang), serta 23 jamaah membutuhkan kursi roda.
Bupati Sukoharjo Etik Suryani mengakui tingginya angka jamaah risti ini menjadi tantangan tersendiri.
“Untuk risiko tinggi, semoga ada mukjizat, semua sehat dan tidak ada kendala,” ungkapnya saat acara Pamitan Jamaah Haji Sukoharjo di Graha Satria Praja Sukoharjo, Rabu (6/5).
Sebagai bentuk antisipasi, sistem pendampingan diperketat. Setiap jamaah dengan risiko tinggi, khususnya kategori berat, wajib memiliki pendamping yang dibuktikan dengan surat pernyataan resmi. Kebijakan ini diterapkan untuk memastikan tidak ada jamaah yang terlantar selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
PHD Kloter 64 Ahmad Hafidh menjelaskan, berbagai langkah mitigasi telah disiapkan sejak sebelum keberangkatan. Mulai dari kesiapan alat bantu seperti kursi roda, pemetaan kondisi kesehatan jamaah, hingga penguatan tim medis berlapis.
Dalam setiap kloter, terdapat tenaga kesehatan yang siaga, ditambah dukungan dari PHD yang juga memberikan layanan kesehatan, ibadah, dan umum.
Pendampingan menjadi kunci utama, terutama bagi jamaah dengan keterbatasan mobilitas.
“Kami pastikan tidak ada jamaah yang berangkat tanpa pendamping jika masuk kategori risiko berat. Ini sudah menjadi komitmen bersama agar seluruh jamaah bisa berangkat dan pulang dengan selamat,” jelasnya.
Di sisi lain, jamaah termuda tahun ini adalah Maetza Kirana Azzahra (21 tahun 7 bulan) asal Kecamatan Baki, sementara jamaah tertua adalah Miatin Maniyo (88 tahun 11 bulan) dari Kecamatan Kartasura.
Dengan komposisi jamaah yang didominasi kelompok rentan, seluruh pihak berharap ikhtiar maksimal yang telah dilakukan dapat menjaga keselamatan jamaah selama menjalankan ibadah haji. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto
#musim haji 2026 #Cjh sukoharjo pamitan #cjh sukoharjo #sukoharjo #risiko tinggi