Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Kasus TBC Di Sukoharjo Tembus 431 Dalam Enam Bulan, Dinkes Ingatkan Gejala Awal

Iwan Kawul • Selasa, 2 Juni 2026 | 15:53 WIB
Tracing TB paru oleh dinkes dan Polres Sukoharjo di balai Desa Laban, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, Selasa (2/6). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
Tracing TB paru oleh dinkes dan Polres Sukoharjo di balai Desa Laban, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, Selasa (2/6). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

RADARSOO.COM – Penyakit tuberkulosis (TBC) mejadi perhatian serius Dinas Kesehatan (Dinkes) Sukoharjo.

Buktinya, dalam kurun Januari-Mei, ada temuan ratusan kasus TBC di berbagai daerah.

Temuan ini membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo melalui dinkes terus berupaya menekan penyebaran TBC.

Upaya nyata dalam menekan penyebaran TBC dibuktikan dengan me-launching program tracing TB paru di balai Desa Laban, Mojolaban, Selasa (2/6).

Baca Juga: Temukan 405 Kasus TBC di Solo, Dinkes Lakukan Tracing Terintegrasi Lewat Layanan Kesehatan Gratis

Program ini melibatkan dinkes dengan Sat Binmas dan Sie Dokkes Polres Sukoharjo.

“Selama enam bulan pertama di 2026, kami mencatat 431 kasus TBC. Mayoritas TBC paru yang mudah menular melalui percikan dahak saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Kunci memutu ratai penularan dengan tracing kasus secara aktif dan pengobatan sampai tuntas,” kata Kepala Dinkes Sukoharjo Tri Tuti Rahayu.

Terkait sebaran TBC, data dinkes menyebut Kecamatan Sukoharjo terbanyak dengan 72 kasus. Disusul Kecamatan Grogol 42 kasus, Polokarto 41 kasus, Kartasura 36 kasus, Bulu 35 kasus, dan Baki 34 kasus. 

Baca Juga: TBC dan Leptospirosis Jadi Prioritas Penanganan, Dinkes Klaten Gencar Lakukan Sosialisasi Penyakit Menular

Kemudian Kecamatan Weru 31 kasus, Bendosari 30 kasus, Tawangsari 28 kasus, Nguter 25 kasus, Gatak 21 kasus, dan Mojolaban 18 kasus.

Tri Tuti menjelaskan, sebaran di hampir seluruh kecamatan menjadi ancaman nyata.

Menurutnya, keberhasilan penanggulangan TBC tak sekadar bergantung pada tenaga kesehatan. Namun juga butuh dukungan masyarakat, pemerintah desa, hingga aparat penegak hukum (APH).

“Kami mengapresiasi keterlibatan Polres Sukoharjo dalam tracing. Dengan jaringan bhabinkamtibmas yang menjangkau hingga tingkat desa, proses pelacakan kontak erat akan lebih cepat dan efektif. Harapannya, pasien bisa ditemukan lebih dini, sehingga segera mendapat pengobatan,” beber Tri Tuti.

Kapolres Sukoharjo AKBP Anggaito Hadi Prabowo menambahkan, program tracing TB paru bukan sekadar seremonial. Tracing akan digelar masif dan berkelanjutan.

“Kegiatan ini akan dilaksanakan di 12 kecamatan. Kami sudah menjalin kerja sama dengan 10 rumah sakit negeri maupun swasta, baik di Sukoharjo maupun Solo untuk mendukung tracing, pemeriksaan, hingga penanganan pasien TB paru,” ungkapnya.

Kasat Binmas Polres Sukoharjo AKP Wuri menyebut peran bhabinkamtibmas dibutuhkan selama tracing.

Baca Juga: Kolaborasi dengan Speling, Dinkes Boyolali Genjot Skrining TBC Lewat Program ACF di 25 Puskesmas: 1.201 Kasus Sudah Terdeteksi

“Bhabinkamtibmas juga ikut mengedukasi masyarakat. Sehingga kasus TB Paru ditemukan lebih cepat, ditangani dengan tepat, serta mencegah penyebaran lebih luas,” bebernya.

Sementara itu, Kabid Pelayanan Kesehatan dan Pencegahan Pengendalian Penyakit (Yankes P2P) Dinkes Sukoharjo Sugeng Triyono memberi pembekalan kepada peserta tracing terkait tata cara, deteksi dini gejala, hingga langkah penanganan apabila ditemukan warga diduga terpapar TB paru.

“Kenali gejala TBC sejak dini, antara lain batuk lebih dari dua minggu, penurunan berat badan tanpa sebab, berkeringat di malam hari, serta demam berkepanjangan. Warga yang mengalami gejala tersebut diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat,” jelasnya. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
#tb paru #gejala tbc #TBC #tracing #sukoharjo