Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Waspadai Karhutla, Mei-Juni 2026 Delapan Kejadian

Iwan Kawul • Kamis, 2 Juli 2026 | 16:24 WIB
Penanganan kebakaran lahan di Kecamatan Polokarto oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo Sukoharjo, belum lama ini. (DOK. BPBD SUKOHARJO)
Penanganan kebakaran lahan di Kecamatan Polokarto oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo Sukoharjo, belum lama ini. (DOK. BPBD SUKOHARJO)

RADARSOLO.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo mencatat delapan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), periode 28 Mei-30 Juni.

Nah, memasuki puncak musim kemarau, BPBD ingatkan potensi kebakaran diperkirakan meningkat dalam beberapa waktu ke depan.

Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo Ariyanto Mulyatmojo menjelaskan, potensi karhutla cukup besar. Paling sering melanda Kecamatan Bulu, Tawangsari, Weru, dan Nguter.

“Seluruh wilayah di Kabupaten Sukoharjo berpotensi terjadi kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, kewaspadaan harus ditingkatkan oleh seluruh elemen masyarakat maupun pemerintah daerah,” jelas Ariyanto, Kamis (2/7).

Baca Juga: Wereng Batang Coklat Serbu Sukoharjo Selatan, 10 Hektare Tanaman Padi Terancam

Data BPBD Sukoharjo periode 28 Mei-30 Juni 2026, terjadi delapan kejadian karhutla yang tersebar di sejumlah kecamatan.

Rinciannya, tiga kejadian di Nguter, dua kejadian di Tawangsari dan Bulu, serta satu kejadian Polokarto, 

Menurut Ariyanto, ancaman karhutla cukup tinggi karena kondisi musim kemarau. Vegetasi yang mulai mengering sangat mudah terbakar.

Baca Juga: Gara-Gara Korsleting Listrik, Rumah Kontrakan Di Mojolaban Sukoharjo Ludes Terbakar

Selain faktor cuaca, juga dipicu aktivitas pembakaran sampah maupun pembersihan lahan yang tidak terkendali.

“Memasuki musim kemarau, kondisi vegetasi yang mengering dan minimnya curah hujan membuat api lebih mudah menjalar. Karena itu kami mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran terbuka yang berpotensi memicu kebakaran,” bebernya.

Sebagai antisipasi, BPBD Sukoharjo bersama instansi terkait telah mengaktifkan Posko Siaga Karhutla.

Selain itu, komunikasi antarinstansi juga diperkuat melalui telepon, handy talky (HT), dan grup koordinasi lintas sektor.

BPBD juga rajin memantau kondisi cuaca, titik panas (hotspot), serta laporan masyarakat.

Apabila situasi berkembang dan diperlukan langkah penanganan lebih lanjut, akan diterapkan status siaga darurat sebagai dasar penguatan penanganan di lapangan.

“Sinergi antarinstansi menjadi kunci. Kami tidak bisa bekerja sendiri. Semua pihak harus bergerak bersama untuk menekan risiko kebakaran,” tegasnya.

Selain itu, BPBD menyiapkan dukungan operasional, logistik dasar, serta kebutuhan lapangan guna mempercepat respons apabila terjadi kebakaran.

Baca Juga: Semenster I 2026, Polisi Ungkap 17 Kasus Narkoba dengan 21 Tersangka Di Sukoharjo

Setiap kejadian juga didokumentasikan dan dievaluasi, sebagai bahan penyempurnaan langkah mitigasi. Termasuk pelaporan secara berkala ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng.

Sementara itu, Ariyanto mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan serampangan. Juga diimbau segera melapor, jika menemukan titik api agar dapat ditangani sebelum meluas.

“Kami mengajak masyarakat untuk ikut menjaga lingkungan dan meningkatkan kewaspadaan. Jika melihat adanya asap atau titik api, segera lapor ke desa, damkar, atau BPBD,” bebernya. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
#kebakaran hutan dan lahan #karhutla #sukoharjo #damkar sukoharjo