RADARSOLO.COM-Dampak musim kemarau mulai dirasakan petani di Kabupaten Sukoharjo.
Menyusutnya debit air sungai memaksa para petani di Desa Sugihan, Kecamatan Bendosari, bergotong royong meninggikan struktur Bendung Cendono menggunakan karung-karung berisi pasir agar aliran air tetap dapat masuk ke saluran irigasi persawahan.
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Kabupaten Sukoharjo Bagas Windaryatno menjelaskan, aksi swadaya para petani merupakan bentuk langkah antisipasi agar pemenuhan kebutuhan air irigasi tetap tercukupi sepanjang masa Musim Tanam (MT) III.
Baca Juga: Usung Tema Nguri Bhumi, Disporapar Boyolali Sukses Gelar Selo Art Fest 2026 di Simpang PB VI
Melalui metode peninggian bendung sementara ini, permukaan air sungai dapat dinaikkan secara manual hingga mampu mengalir menuju jaringan irigasi.
"Debit air sungai mulai mengalami penyusutan akibat musim kemarau. Karena itu, petani bergotong royong menambah ketinggian Bendung Cendono dengan karung pasir supaya air tetap bisa masuk ke saluran irigasi," jelas Bagas, Minggu (5/7/2026).
"Harapannya, kebutuhan air untuk MT III tetap tercukupi sehingga hasil panen bisa maksimal," lanjut dia.
Di samping memberikan apresiasi atas inisiatif mandiri kelompok tani, pihak Distankan bergerak memperkuat manajemen mitigasi di seluruh kawasan sumber air.
Bagas menyatakan telah menerbitkan instruksi resmi kepada seluruh koordinator penyuluh pertanian di tingkat kecamatan untuk melangsungkan pengecekan menyeluruh pada aspek sarana pendukung penyediaan air.
"Kami minta dilakukan pengecekan pompa air, baik untuk sumber air permukaan seperti sungai dan embung, maupun sumur dalam. Jangan sampai saat dibutuhkan justru terjadi kendala," tegas Bagas.
Menurut pemaparan Bagas, ruang lingkup pemeriksaan teknis tersebut tidak hanya menyasar pada ketersediaan mesin pompa air, melainkan juga menyentuh jaringan irigasi perpipaan.
Paralel dengan hal itu, para petugas penyuluh pertanian diwajibkan melakukan koordinasi intensif dengan jajaran Kelompok Tani (Poktan) serta Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) guna menjamin seluruh sarana prasarana pengairan dalam kondisi siap pakai.
Distankan Sukoharjo juga akan menjalankan skema identifikasi serta mitigasi berkala secara rutin setiap hari terhadap berbagai variabel faktor risiko yang berpotensi mengoreksi angka produksi pertanian daerah.
Langkah ini sebagai upaya deteksi dini dalam mengantisipasi potensi gangguan akibat kemarau.
Baca Juga: Prediksi Skor Brasil vs Norwegia di 16 Besar Piala Dunia 2026, Erling Haaland Siap Mengancam Selecao
"Kami terus melakukan pemantauan dan identifikasi di lapangan agar apabila muncul kendala, baik terkait sumber air maupun sarana pendukung lainnya, dapat segera ditangani sehingga produksi pertanian tetap terjaga," urainya.
Bagas menegaskan, rangkaian kebijakan antisipasi ini mengacu pada rilis draf prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Lembaga klimatologi tersebut memperkirakan karakteristik musim kemarau tahun 2026 akan berlangsung dalam durasi yang lebih panjang serta cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Dengan puncak kemarau yang diproyeksikan jatuh pada Agustus 2026, tingkat kesiapan sarana pengairan bertindak sebagai faktor determinan bagi keberhasilan masa tanam ketiga di Kabupaten Sukoharjo. (kwl)
Editor : Tri Wahyu Cahyono