Sejak 2019 lalu, Wahyu Hadi, 56, warga Jalan Madura No. 7 Kelurahan Jombor, Kecamatan Bendosari ini mulai mengelola air hujan untuk dikonsumsi dan pengobatan. Menurut dia, pH dalam air hujan memenuhi standar air minum yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Sebab itu, air hujan dinilai dapat dikonsumsi untuk air minum maupun memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Air hujan juga memiliki molekul yang lebih kecil, sehingga baik untuk mengobati berbagai penyakit. Dia mengaplikasikan teknologi tepat guna ini dari ahli hidrologi Universitas Gadjah Mada.
"Kalau diminum, bisa untuk pengobatan berbagai macam penyakit seperti rematik, menstruasi tidak teratur, sulit buang air besar (BAB), kolesterol, dan asam lambung," kata Wahyu Hadi, pria usia 56 tahun ini.
Setidaknya, untuk mengonsumsi air hujan, diperlukan dua set alat. Yakni, alat untuk memanen air hujan dan menyetrum air hujan. Untuk alat penampung dan penyaring air hujan ini dikembangkan oleh dosen di Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada dan sudah dipatenkan UGM. Meski demikian, masyarakat dipersilakan untuk menirunya untuk tujuan sosial, kalau untuk usaha tentunya harus izin dahulu.
”Kalau untuk sosial, masyarakat boleh meniru,” kata Wahyu.
Alat ini didesain untuk menangkap air hujan dari atap dan secara otomatis menyaringnya sebelum dimasukkan ke tangki air, sehingga menjadi air besih. Sistem penyaring pertama untuk mencegah daun masuk ke tangki, berupa pipa yang dipasangi kawat kasa bagian atasnya.
Air hujan awal, kira-kira 5 menit sampai 10 menit dari mulai hujan turun, yang umumnya membawa debu halus dan kasar dialirkan ke konstruksi penyaring atau penjebak debu kasar. Setelah itu, air hujan akan mengalir ke filter debu halus yang dipasang pada bagian dalam penutup tangki, baru kemudian air hujan masuk ke tangki.
"Asal penampungnya rapat, airnya bisa dimasak langsung dikonsumsi. Tapi, untuk dijadikan pengobatan, harus melalui proses lagi, dengan metode elektrolisa alias disetrum dan menjadi air minum yang sehat," katanya.
Untuk penyetruman, Wahyu menyebut alatnya bisa dibikin sendiri. Biayanya juga murah dan panduannya bisa dilihat diberbagai chanel YouTube. Alat ini terbuat dari dua kotak plastik galon yang diberi sambungan peralon dengan bejana berhubungan. Air hujan yang bersih kemudian dialiri listrik searah (DC). Perhitungannya, untuk 1 liter air bisa dikonsumsi setelah 1 jam dialiri listrik.
"Air hujan yang sudah disetrum tidak perlu dimasak lagi, langsung diminum saja. Kalau saya, punya yang 1 galon, sekitar 24 liter, butuh waktu 24 jam," katanya.
Wahyu tidak menjual air hujan yang sudah diolahnya untuk pengobatan berbagai penyakit. Masyarakat bisa datang kerumahnya untuk meminta air hujan secara gratis. Warga yang meminta air hujan dan meminumnya kemudian gejala penyakitnya berkurang saja merupakan sebuah kebahagiaan untuknya.
"Saya setiap hari minum dan masak pakai air hujan, hemat PAM. Banyak yang sudah kemari minta, tidak usah membayar. Gejala penyakit berkurang saja sudah senang. Apalagi sampai meniru, memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari," ujar dia. (kwl/bun/dam) Editor : Damianus Bram