RADARSOLO.COM - Limbah medis terutama jarum suntik bekas pakai, menjadi masalah serius jika tidak dikelola dengan benar. Selain berisiko menularkan penyakit seperti HIV dan hepatitis, juga berpotensi mencemari lingkungan saat dibuang di tempat pembuangan akhir (TPA). Menjawab persoalan itu, siswa SMK Analis Kesehatan Nasional Solo ciptakan alat penghancur jarum suntik sekali pakai.
Alat ini dikreasi Denada Sekar Ayu Nirvana, Fahda Alifah Adzimah, Fathir Gaviensa Marka Faruq, dan Yuanita Eka Putri Nugraheni. Melalui proyek ini, mereka berusaha menciptakan solusi sederhana namun fungsional untuk mengatasi limbah medis.
“Alasan kami membuat alat penghancur jarum suntik, karena setiap hari praktik medis. Jadi otomatis selalu pakai jarum suntik,” kata Yuanita.
Cara kerja alat ini cukup sederhana namun efektif. Jarum suntik bekas terlebih dahulu direndam dalam larutan klorin selama tiga jam. Langkah ini dilakukan untuk mensterilkan jarum suntik dari sisa darah dan bakteri.
Setelah itu jarum dimasukkan ke dalam alat penghancur, yang cara kerjanya mirip blender. Saat penghancuran, posisi jarum agak miring supaya lebih mudah bengkok dan hancur saat proses berlangsung. Hasil akhirnya, jarum yang hancur menjadi serbuk abu.
Alat ini memanfaatkan komponen daur ulang. Di antaranya dinamo bekas blender dan kabel pemutar. Desain awalnya memang masih kasar, tetapi berfungsi baik selama proses penghancuran.
“Menurut saya alatnya ini masih kurang bagus untuk dipasarkan. Ke depannya akan kami kembangkan lagi supaya tampilannya lebih menarik. Dan alatnya lebih nyaman dipakai,” imbuhnya.
Inovasi ini hadir sebagai bentuk keprihatinan terhadap tata kelola limbah medis, yang selama ini belum optimal. Terutama dalam lingkung lembaga pendidikan.
Tak jarang jarum suntik bekas langsung dibuang begitu saja dan berakhir di TPA. Kondisi ini membahayakan pemulung atau masyarakat sekitar, yang tidak sengaja bersentuhan dengan benda tajam tersebut.
Melalui alat sederhana ini, Yuanita dkk berharap bisa berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman dan sehat. Mereka juga ingin menginspirasi pelajar lain, agar tidak berhenti berinovasi dari persoalan yang ada di sekitar.
“Harapan kami alat ini bisa dikembangkan dan digunakan di tempat-tempat praktik kecil seperti klinik, laboratorium sekolah, atau apotek. Supaya risiko penularan penyakit dari limbah medis bisa diminimalkan juga,” harapnya. (zia/fer)
Editor : fery ardi susanto