RADARSOLO.COM - Kabupaten Sukoharjo menyimpan potensi wisata alam yang cukup menjanjikan. Bahkan ada beberapa even tahunan yang bisa menjadi pertimbangan untuk dikunjungi.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo setidaknya telah menetapkan 19 desa menjadi desa wisata (deswita). Deswita ini sudah memperoleh surat keputusan (SK) Bupati Sukoharjo sebagai desa wisata.
Terdiri dari Deswita Ngrombo, Kecamatan Baki; Deswita Wirun, Cangkol, Laban Kecamatan Mojolaban; Deswita Kenep, Kecamatan Sukoharjo; Deswita Trangsan, Kecamatan Gatak; Deswita Jangglengan, Juron, Gupit, Plesan, Pengkol Kecamatan Nguter. Lalu, Deswita Karangasem, Gentan, Tiyaran Kecamatan Bulu. Selanjutnya Deswita Bakalan dan Kayuapak Kecamatan Polokarto. Serta Deswita Kedungjambal, Watubonang, Pojok Kecamatan Tawangsari.
”Dari 19 desa wisata ini, sudah ada suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku,” kata Bupati Sukoharjo Etik Suryani.
Desa wisata di Sukoharjo sangat beragam. Mulai dari desa wisata yang menyajikan keindahan bentang alam hingga desa wisata yang menyajikan keunikan produk UMKM dan bangunan-bangunan warisan sejarah. Di antaranya wisata Gunung Sepikul di Desa Wisata Tiyaran, Kecamatan Bulu; wisata Gunung Pegat di Desa Wisata Karangasem, Kecamatan Bulu; dan Geopark Village di Desa Wisata Gentan, Kecamatan Bulu.
Ada juga Desa Wisata Trangsan, Kecamatan Gatak yang khas dengan produk furniture rotannya. Di desa ini ada agenda tahunan, yakni Grebeg Penjalin. Serta ada Desa Wisata Kenep yang menyajikan aneka produk UMKM seperti makanan ringan khas Jawa, batik, dan wisata religi di Masjid Tua yang pernah disinggahi Pangeran Diponegoro.
”Desa wisata tersebut telah memiliki potensi wisata yang dapat dimanfaatkan sebagai atraksi wisata, memiliki aksesibilitas, dan sudah memiliki aktivitas wisata atau berada dekat dengan aktivitas wisata yang sudah ada dan terkenal,” imbuh Etik.
Kemudian, terkait even tahunan, setiap 1 Muharam, setidaknya ada even rutin yang digelar oleh kelompok masyarakat. Salah satunya yakni Grebeg Pakujoyo di Kelurahan Gayam, Kecamatan Sukoharjo Kota. Grebeg ini berkonsep kirab seni dan budaya yang digelar oleh Paguyuban Pedagang Taman Pakujoyo, Pemerintah Kelurahan Gayam, dan masyatakat Sukoharjo Kota.
”Ada kirab gunungan yang digelar rutin setiap 1 Muharam untuk menyambut tahun baru Islam,” kata Camat Sukoharjo Havid Danang Purnomo Widodo.
Grebeg Pakujoyo merupakan hasil kerjasama yang solid antara pedagang di Pakujoyo, pemerintah, dan masyatakat khususnya di Kelurahan Gayam. Grebeg ini berupa kirab yang diikuti oleh perwakilan kelurahan, RT/RW, sekolah, organisasi yang ada di Kecamatan Sukoharjo dan juga dari swasta. Setiap perwakilan menampilkan beraneka macam potensi masing-masing. Karya dan potensi yang ditampilkan dilombakan dalam event tersebut.
”Ada tiga macam gunungan yang ikut dikirab, yakni gunungan sayur/palawija hasil bumi, gunungan jajan pasar, dan gunungan uang yang diperebutkan usai kirab,” imbuh Havid.
Selain kirab, lanjut Havid, panitia juga menghadirkan hiburan untuk masyarakat yakni pentas musik dangdut. Ada juga barongsai, dan musik akustik. (kwl/adi)
Editor : Damianus Bram