Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Sendang Panguripan di Desa Bukuran, Kalijambe, Sragen: Tak Kering Meski Kemarau Panjang

Ahmad Khairudin • Minggu, 22 Oktober 2023 | 15:00 WIB
MENGALIR DERAS: Warga mengambil air bersih dari mata air sumber panguripan di Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Sragen, kemarin (21/10).
MENGALIR DERAS: Warga mengambil air bersih dari mata air sumber panguripan di Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Sragen, kemarin (21/10).

RADARSOLO.COM - Musim kemarau kali ini memang cukup panjang. Kondisi ini membuat beberapa sumber air dan sungai mengering. Namun di ujung barat daya Sragen, terdapat pancuran mata air yang terus mengalir.

Mata air tersebut di Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe. Daerah yang dilindungi sebagai kawasan cagar budaya. Karena merupakan tanah purba dan kerap ditemukan fosil berusia ribuan tahun. Namun jika ingin melihat selain fosil, wisatawan bisa singgah ke sebuah mata air yang oleh warga setempat menamainya sedang panguripan.

Jaraknya sekira 25 kilometer dari pusat kota Sragen dengan waktu tempuh sekira 30 menit menggunakan kendaraan bermotor. Sendang tersebut berada di dekat sebuah tebing. Namun tidak jauh untuk jalan kaki. Sayangnya, aksesnya kurang bagus. Sampai saat ini warga sekitar memanfaatkan air tersebut untuk dikonsumsi.

Bagi warga setempat, air dari sendang panguripan ini punya khasiat dan masih segar. Sehingga tidak perlu direbus. Selain itu airnya juga tidak asin dan layak dikonsumsi. Bagi warga setempat, air dari sendang panguripan punya khasiat untuk menyembuhkan penyakit.

Kepala Desa (Kades) Bukuran, Hariyanto menyampaikan, air tersebut berasal dari perbukitan Bukuran. Kemudian diberi pipa oleh warga setempat. Hingga kini, air sumber tersebut terus mengalir.

”Saat ini difungsikan oleh warga untuk diminum. Konon juga menyembuhkan penyakit,” terangnya.

Dia menjelaskan, sampel air dari sendang panguripan sudah pernah dicek di laboratorium. Kandungannya lebih bagus dari pada air kemasan. ”Di laboratorium sekira setahun lalu,” terang dia.

Pihaknya sempat terpikir untuk menjadikan air tersebut sebagai oleh-oleh wisatawan yang berkunjung ke Bukuran. Namun perlu dirembuk bersama warga.

”Kami ingin punya alat untuk sterilisasi, kemudian punya branding air kemasan sendang panguripan. Itu sinergi dengan wisata yang ada di sekitar sini,” imbuhnya.

Hariyanto menambahkan, untuk lahan sendang itu juga bukan tanah kas desa. Namun di sebuah tebing milik warga. Sesepuh desa masih mempertahankan sendang tersebut karena dipercaya membawa manfaat untuk obat.

Selain sendang tersebut, di Desa Bukuran juga terdapat sumber air asin. Sumber itu tidak sengaja ditemukan saat membuat sumur. Pihaknya punya wacana membuat pemandian air asin.

”Dulu dibor sekira 20 meter, keluar air tapi asin,” ujar dia.

Saat ini sumber air asin tersebut disumbat. Jika akan dikembangkan pemandian air asin, perlu juga membuat kolam bilas. Pemerintah desa juga sudah mengupayakan untuk izin ke pihak cagar budaya mendirikan destinasi wisata tersebut.

”Kalau kami bisa membuat destinasi wisata, bisa menjadi penopang museum Sangiran. Harapannya bisa bisa meningkatkan kunjungan ke Desa Bukuran,” selorohnya.

Soal sumber mata air asin tersebut, pihaknya menjelaskan niat awalnya untuk pengairan sawah. Namun ternyata kurang baik untuk tanaman. ”Kalau air asin itu kami sampaikan bisa untuk menghilangkan penyakit kulit, namun tetap dibilas dengan air bilas,” ujar dia. (din/adi)

Editor : Damianus Bram
#Desa Bukuran #mata air #kemarau #Sendang Panguripan