Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Jalur alternatif Wonosamodro: Eksotisme Jalur Wonosamodro-Purwodadi di Boyolali, Disuguhi Hamparan Perbukitan Gunungsari

Ragil Listiyo • Minggu, 18 Februari 2024 | 23:44 WIB
ASRI: Salah satu panorama alam perbukitan di jalur Wonosamodro-Purwodadi, Boyolali yang memanjakan mata.
ASRI: Salah satu panorama alam perbukitan di jalur Wonosamodro-Purwodadi, Boyolali yang memanjakan mata.

RADARSOLO.COM - Travelers pernah mencoba berjelajah ke Boyolali Utara? Atau mencoba ke Kabupaten Grobogan melalui jalur Wonosamodro? Tampaknya, ini bisa menjadi opsi baru.

Selain jalannya yang mulus, travelers juga disajikan pemandangan alam berupa gugusan perbukitan.

Wonosamodro merupakan kecamatan pecahan dari Wonosegoro. Wono yang berarti hutan, dan Samudro berarti samudera atau lautan.

Nah, jalan alternatif Grobogan via Wonosamodro ini menyajikan pemandangan yang memanjakan mata.

Namun jangan lupa mengisi bensin secara full. Meski tetap ada penjual-penjual bahan bakar minyak (BBM) secara eceran.

Jika dari Kecamatan Karanggede, ambil jalur ke arah utara dan terus lurus.

Sampai di pertigaan Desa Keongan, ambil jalur ke kiri. Jika tetap lurus akan mengarah ke Kecamatan Kemusu dan Juwangi.

Setelah itu, terus ikuti jalur tersebut yang mengarah ke Wonosamodro. Awal musim penghujan ini sangat cocok.

Kita akan disajikan teduhnya pepohonan jati yang mendoyong ke arah jalan. Sawah-sawah tadah hujan juga mulai menghijau.

Anak-anak sungai dari Kali Serang mengalir bermuara ke Waduk Kedung Ombo (WKO).

Lebih jauh ke arah Wonosamodro, kita disajikan pemandangan perbukitan yang terhampar luas. Kanan dan kiri perbukitan dimanfaatkan sebagai lahan pertanian jagung.

Masa panen jagung langsung disambut masa tanam. Warga memanfaatkan musim penghujan untuk memaksimalkan tanam palawija.

Sedangkan di desa-desa, masyarakat sibuk menjemur jagung yang sudah dipipil. Begitu kering, jagung-jagung itu dimasukan ke karung untuk dijual.

Jagung-jagung yang belum dipipil ditempatkan di pagubon, atau semacam pagung dari kayu. Di bawahnya, kayu-kayu bakar dinyalakan untuk mempercepat pengeringan.

Suasana pedesaan tersebut memang menyenangkan. Selain pemandangan alamnya, warga setempat juga ramah.

Suasana sederhana dan menenangkan bisa kita nikmati sepanjang jalan. Tak perlu berkendara dengan terburu-buru. Karena mayoritas jalan, cukup lenggang.

”Jalan ini bisa jadi alternatif baru kalau ke Purwodadi. Jalannya juga sudah mudah, buat yang suka motoran dan tertarik nyoba jalur-jalur baru juga cocok,” ujar pengguna jalan asal Bangak, Banyudono, Irvani.

Dia sengaja memilih jalur ini karena cenderung lebih tenang dan santai. Karena jika melewati jalan besar, cenderung terburu-buru.

Selain itu, akses jalan juga mudah. Pemandangan di kanan dan kiri juga menambah syahdu perjalanan.

Dia bertolak dari Boyolali Kota. Kemudian sengaja lewat memutar dan mengambil jalur dari Sruwen, Kabupaten Semarang-Karanggede-Wonosamodro. Ternyata, perjalanan cenderung mulus dan lancar.

Dia hanya memakan waktu sekira 1,5 jam saja. Namun, dia mengaku puas bisa melihat hamparan perbukitan hijau di hutan Gunungsari, Kecamatan Wonosamodro.

”Kalau motoran ke sini, ya sepadan dengan pemandangannya. Jadi terbayarkan, dan tentu perjalanannya lebih tenang dan cocok bagi yang suka motoran,” tandasnya. (rgl/adi)

Editor : Damianus Bram
#boyolali utara #grobogan #Travelers #wonosamodro