Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Konsistensi Tujuh Generasi: Cara Desa Senaru di Kaki Rinjani dalam Menjaga Arsitektur Vernakular di Tengah Arus Wisata.

Kabun Triyatno • Rabu, 25 Februari 2026 | 13:42 WIB

Rumah adat Desa Senaru di kaki Gunung Rinjani NTB. (Humas UMS)
Rumah adat Desa Senaru di kaki Gunung Rinjani NTB. (Humas UMS)

RADARSOLO.COM – Di tengah kepungan tren arsitektur modern yang serba beton, sekelompok mahasiswa Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memilih untuk menempuh perjalanan jauh menuju kaki Gunung Rinjani. Selama sepekan (5–11 Februari), sebanyak 14 mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Jinten menyelami kearifan lokal di Desa Adat Senaru, Nusa Tenggara Barat.

Bukan sekadar kunjungan wisata, KKL (Kuliah Kerja Lapangan) ini merupakan misi penggalian ilmu tentang bagaimana sebuah permukiman tradisional mampu bertahan selama tujuh generasi tanpa kehilangan jiwanya.

Baca Juga: Menepi Sejenak di Wonogiri: Inilah 10 Lokasi Eksotik, Dari Ubud Tersembunyi hingga Sensasi Negeri di Atas Awan

Desa Senaru bukan sekadar deretan rumah tua. Di sini, ruang dan struktur sosial berkelindan erat. Rini Hidayati, selaku dosen pembimbing menjelaskan bahwa desa ini adalah laboratorium hidup yang sempurna bagi calon arsitek.

"Rumah adat di sini dihuni oleh tujuh generasi dalam satu garis keturunan. Susunan rumahnya mengikuti struktur keluarga, sehingga mahasiswa bisa mengamati langsung bagaimana budaya mengatur tata ruang secara alami," ungkap Rini.

Baca Juga: Bukit Jatayu Bayat: Transformasi Bekas Tambang Batu Putih Menjadi Surga Sunrise di Klaten Selatan, Tiket Hanya Rp2.000

Orientasi bangunan di desa ini tidak sembarangan. Mengikuti kepercayaan lokal, zona permukiman diatur semakin privat ke arah selatan. Sebuah konsistensi yang membuktikan bahwa bagi masyarakat Senaru, rumah adalah manifestasi dari penghormatan terhadap alam dan leluhur.

Secara teknis, para mahasiswa membedah penggunaan material lokal yang ramah lingkungan. Dinding anyaman bambu (gedek) memungkinkan sirkulasi udara alami tetap terjaga, sementara atap alang-alang memberikan kesejukan di tengah teriknya cuaca tropis.

Baca Juga: Panduan Trip Seru Naik KA Batara Kresna dari Solo untuk Jalan-jalan di Wonogiri: Jajal Jembatan Kaca hingga Kuliner Legendaris

Namun, Senaru bukanlah situs yang kaku. Desa ini menunjukkan fleksibilitas melalui proses adaptasi yang cerdas. Sejak tahun 1986, intervensi pemerintah melalui program lantainisasi telah dilakukan untuk meningkatkan ketahanan bangunan terhadap iklim, tanpa merusak bentuk asli dan motif warisan orang tua.

"Rumah tradisional ini tetap kami pertahankan karena ini peninggalan orang tua. Bentuk dan motifnya tetap sama sejak dahulu," ujar Nawasim, pengelola Desa Senaru.

Baca Juga: Puluhan Candi dan Situs Bersejarah Mengelilingi Prambanan: Jejak Peradaban Kuno Bertebaran

Salah satu elemen yang paling menarik perhatian mahasiswa adalah Berugak. Ruang komunal terbuka ini berfungsi layaknya "parlemen" bagi warga. Di sinilah musyawarah, upacara adat, hingga prosesi pernikahan digelar. Berugak menjadi bukti bahwa arsitektur vernakular selalu menyediakan ruang bagi kebersamaan, sebuah aspek yang sering kali hilang dalam desain hunian modern yang individualis.

Hebatnya, meski kini Senaru menjadi magnet pariwisata internasional, masyarakatnya tetap memegang teguh awig-awig (aturan adat). Generasi muda di sana tidak malu menjadi pemandu wisata sembari tetap menjalankan tradisi leluhur.

Bagi mahasiswa UMS, observasi di Desa Senaru memberikan pelajaran berharga: bahwa arsitektur masa depan tidak harus selalu meninggalkan masa lalu. Keberlanjutan justru sering kali ditemukan dalam kesederhanaan material lokal dan kuatnya ikatan sosial yang menaunginya. 

Editor : Kabun Triyatno
#arsitektur #Desa adat #gunung rinjani #pariwisata #generasi