Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Bukan Sekadar Kota Bakso, Intip 6 Desa Kreatif di Wonogiri: Dari Kampung Dinamo hingga Seni Pahat Wayang

Kabun Triyatno • Rabu, 25 Februari 2026 | 14:43 WIB

Ilustasi perajin sedang membuat wayang kulit.
Ilustasi perajin sedang membuat wayang kulit.

RADARSOLO.COM – Selama ini, nama Wonogiri mungkin lebih identik dengan kuliner bakso dan mi ayamnya yang merantau hingga ke pelosok negeri. Namun, cobalah sesekali memacu kendaraan Anda membelah jalanan berkelok di wilayah berjuluk Kota Gaplek ini. Keajaiban Wonogiri ternyata tak berhenti pada bentang alamnya saja.

Jika Anda menelusuri lebih dalam, daerah ini adalah rumah bagi para petarung ekonomi kreatif yang mandiri. Di balik rimbunnya hutan jati, tersimpan desa-desa "spesialis" yang membuktikan bahwa kreativitas warga lokal mampu menembus batas pasar nasional. Di sini, setiap desa memiliki "napas" dan keahliannya sendiri, menjadikannya bukan sekadar tempat wisata, tapi sekolah kehidupan bagi kemandirian.

Mari mengintip lima desa unik yang akan mengubah cara pandang Anda terhadap Wonogiri:

1. Desa Pasekan: Gema Pahat di "Jepara-nya" Wonogiri

Begitu memasuki Desa Pasekan di Kecamatan Eromoko, indera penciuman Anda akan disambut aroma khas kayu jati yang segar. Hampir di setiap rumah, Anda akan mendengar simfoni suara gergaji dan ketukan pahat. Inilah gudangnya perajin mebel dan ukir. Keahlian mereka mengolah jati menjadi furnitur kelas atas sudah tersohor hingga ke toko-toko besar di Solo, Jogja, hingga Jakarta.

2. Desa Ngadirojo Kulon: Jantung Ramuan Jamu Gendong

Wonogiri adalah "Ibu Kota" Jamu Indonesia, dan desa inilah jantungnya. Di sini, meracik empon-empon adalah keahlian yang diwariskan turun-temurun antar generasi perempuan. Saat berkunjung, Anda bisa melihat proses pengolahan rempah secara masif di halaman rumah warga sebelum ramuan ini dibawa merantau oleh para penjual jamu gendong ke seluruh penjuru Nusantara.

3. Desa Puloharjo: Kesetiaan pada Helaian Tenun Ikat

Di tengah gempuran mesin tekstil modern, Desa Puloharjo di Eromoko tetap setia menjaga tradisi. Di sini, Anda bisa melihat ibu-ibu dengan sabar mengoperasikan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Melihat proses pewarnaan benang hingga menjadi motif kain yang rumit adalah pengalaman visual yang tak ternilai harganya bagi pencinta wastra etnik.

4. Desa Tukulrejo: Desa Merah Sang "Pembangun"

Desa ini adalah saksi bisu pembangunan rumah-rumah di Wonogiri. Memanfaatkan tanah liat lokal yang berkualitas, warga Desa Tukulrejo secara kolektif memproduksi genteng dan bata merah. Pemandangan desa ini sangat unik; deretan ribuan genteng yang dijemur rapi serta tungku pembakaran raksasa (tobong) menciptakan suasana pedesaan industri yang eksotik.

5. Desa Wonoharjo: Pesona Karamba di Atas Waduk

Jika ingin suasana berbeda, bergeserlah ke Nguntoronadi. Pandangan mata Anda akan dimanjakan oleh ribuan petak keramba jaring apung yang menghiasi pinggiran Waduk Gajah Mungkur. Desa ini adalah pusat ekonomi perikanan nila dan gurame. Aktivitas nelayan dan riak air waduk memberikan nuansa "desa pesisir" yang tenang dan unik di tengah daratan.

6. Desa Kebonagung: Kampung Dinamo

Desa ini bukan sekadar pemukiman biasa, melainkan sebuah "bengkel raksasa" yang dikenal luas sebagai Kampung Dinamo.

Desa Kebonagung menjadi bukti nyata kreativitas dan kemandirian ekonomi warga Wonogiri di bidang mekanik. Tanpa gelar akademik dari sekolah teknik formal, warga di sini—khususnya di Dusun Kebonagung—memiliki keahlian luar biasa dalam servis dan gulung dinamo yang didapat secara otodidak dan diwariskan turun-temurun.

7. Desa Kepuhsari: Kampung Wayang

Desa Kepuhsari telah lama ditasbihkan sebagai Kampung Wayang. Di sini, hampir seluruh penduduknya adalah seniman. Mulai dari anak-anak hingga lansia, mereka memiliki jemari ajaib yang mampu mengubah lembaran kulit kerbau menjadi sosok ksatria dan raksasa yang detail dan megah.

Keunikan utama Kepuhsari terletak pada keahlian warga dalam teknik Tatah Sungging. Tatah adalah proses mengukir kulit hingga membentuk lubang-lubang halus yang membentuk karakter wayang, sementara Sungging adalah seni mewarnai dengan gradasi yang sangat rumit.

Menelusuri desa-desa ini bukan hanya soal melihat produk jadi, tapi tentang merasakan energi dari tangan-tangan terampil yang tak pernah berhenti bekerja. Wonogiri sedang memanggil Anda untuk melihat bagaimana tradisi dan kemandirian berpadu mesra. Jadi, kapan Anda akan mampir?

 

Editor : Kabun Triyatno
#pahat kayu #Jamu Gendong #tenun #kampung wayang #waduk #Karamba #Kampung Dinamo #ekonomi kreatif #kuliner #wonogiri