Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Candi Sari, Saksi Kejayaan Hindu-Buddha pada Abad Ke-9 yang Masih Tersisa di Cepogo Boyolali

Ragil Listiyo • Sabtu, 23 November 2024 | 03:54 WIB
Kompleks Candi Sari di Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo, Boyolali yang berhawa dingin.
Kompleks Candi Sari di Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo, Boyolali yang berhawa dingin.

RADARSOLO.COM- Objek ini merupakan peninggalan dari era Mataram Hindu kuno.

Menjadi saksi bisu kejayaan Hindu-Buddha di Jawa pada abad ke-9.

Berlokasi di perbukitan Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo, Boyolali, tersembunyi candi bernama Candi Sari.

Perjalanan ke Candi Sari dimulai dari Stadion Kebogiro, Kecamatan Cepogo.

Melintasi Desa Paras, Sumbung, hingga Gedangan.

Anda akan disuguhi pemandangan pedesaan yang asri, lengkap dengan aktivitas harian warga.

Seperti menyetorkan susu segar khas peternakan sapi perah di daerah ini.

Meskipun jalan menuju lokasi relatif curam, semuanya terbayar begitu sampai di candi yang berdiri anggun di atas bukit.

Dari sini, pengunjung dapat menikmati panorama megah Gunung Merapi dan Merbabu di sisi barat-utara, serta hamparan ladang pertanian yang mengelilingi situs candi.

Beragam peninggalan arkeologis ditemukan di sekitar Candi Sari.
Beragam peninggalan arkeologis ditemukan di sekitar Candi Sari.

Berukuran minimalis, Candi Sari hanya menyisakan fondasi berukuran 4,62 meter x 4,62 meter dan tinggi sekitar 7 meter.

Di atas fondasi terdapat empat batu andesit berbentuk seperti ratna, bagian puncak khas candi Hindu.

Baca Juga: Menikmati Pesona Desa Pranten: Desa di Atas Awan dengan Nikmatnya Pemandangan Tol Khayangan

Beragam peninggalan arkeologis ditemukan di sekitar Candi Sari, termasuk:

• Lingga-Yoni, simbol kesatuan Dewa Siwa dan Dewi Parwati.

• Arca Durga, Ganesa, dan Agastya, yang mencerminkan unsur keagamaan Hindu.

• Arca Nandi tanpa kepala, lambang wahana Dewa Siwa berupa lembu.

Peninggalan ini menguatkan identitas Hindu dari Candi Sari dan memperkirakan bahwa situs ini berasal dari masa Mataram Hindu.

Situs Candi Sari ditemukan pada era kolonial Belanda sekitar 1915 dalam kondisi berserakan.

Pada 1976, pengelolaan situs ditingkatkan dengan menempatkan juru pelihara (Jupel) dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X Jawa Tengah.

Candi Sari hanya menyisakan fondasi berukuran 4,62 meter x 4,62 meter dan tinggi sekitar 7 meter.
Candi Sari hanya menyisakan fondasi berukuran 4,62 meter x 4,62 meter dan tinggi sekitar 7 meter.

Saat ini, arca-arca dari situs Candi Sari disimpan di Museum Jawa Tengah Ronggowarsito, Semarang, dan kantor BPK Jawa Tengah untuk menjaga kelestariannya.

Meski demikian, candi ini tetap terawat dengan baik dan menjadi destinasi populer untuk edukasi sejarah, wisata, dan peribadatan Hindu.

“Penjagaan memang tidak 24 jam, jadi arca-arca penting diamankan untuk menghindari risiko kehilangan,” ungkap Sutrisno, juru pelihara Candi Sari.

Menuju Candi Sari kini lebih mudah karena jalur ke lokasi sudah beraspal.

Yang menarik, tidak ada biaya masuk atau retribusi parkir—pengunjung dapat menikmati tempat ini secara gratis.

Baca Juga: Ini Dia Pesona Taman Satwa Kemuning, Karanganyar: Harga Terjangkau, Dilengkapi Keindahan Kebun Teh yang Memukau

Selain nilai sejarahnya, suasana di sekitar Candi Sari memikat pengunjung dengan udara sejuk dan keindahan alamnya.

“Udara di sini segar sekali, apalagi kalau datang pagi hari. Dikelilingi suara hewan-hewan, rasanya tenang dan nyaman,” kata Tsaqofah, salah satu pengunjung.

Candi Sari adalah tempat yang sempurna untuk menikmati keindahan alam sekaligus belajar sejarah, mengingatkan kita pada masa kejayaan budaya Hindu-Buddha di Indonesia. (rgl/wa)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#buddha #Boyolali #Candi Sari #hindu #Kejayaan #mataram #cepogo