Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Cikal Bakal Angkringan Ternyata dari Kabupaten Klaten, Ada Wisata Sejarahnya di Bayat

Angga Purenda • Sabtu, 25 Oktober 2025 | 14:30 WIB
Ketua Pokdarwis Ngerangan Suwarna saat memperlihatkan gerobak angkringan khas Ngerangan, Bayat dalam Festival Desa Wisata di Krakitan, Bayat. (Angga Purenda/Radar Solo)
Ketua Pokdarwis Ngerangan Suwarna saat memperlihatkan gerobak angkringan khas Ngerangan, Bayat dalam Festival Desa Wisata di Krakitan, Bayat. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Desa wisata Ngerangan, Kecamatan Bayat, Klaten selama ini dikenal sebagai cikal bakal angkringan hingga akhirnya menyebar ke seluruh wilayah Indonesia.

Bahkan ketika mengunjungi desa tersebut dapat menjumpai monumen hingga museum terkait awal mula angkringan yang bisa diakses wisatawan.

Desa Ngerangan juga menawarkan paket wisata edukasi angkringan yang dikelola oleh kelompok sadar wisata (pokdarwis) setempat.

Belajar menjadi juragan angkringan yang lengkap dengan resep rahasianya serta strategi pemasaran khas angkringan Bayat.

Ketua Pokdarwis Ngerangan Suwarna menjelaskan, 70 persen warga desanya, khususnya laki-laki berprofesi sebagai pedagang angkringan.

Mereka tersebar hampir di seluruh nusantara, terutama Jawa Tengah, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ), Jawa Barat dan Jawa Timur.

”Awal mula edukasi ini adalah pengembangan dari branding desa wisata. Jadi, kalau kita berpikir orang-orang (Warga Desa Ngerangan) tidak mungkin akan mencapai seluruh Nusantara kan. Tapi dengan ilmunya itu Insyaallah suatu saat Ngerangan akan membumi Nusantara lah,” ujar Suwarna saat ditemui di Festival Desa Wisata, beberapa waktu lalu.

Suwarna menjelaskan, lewat paket wisata edukasi itu, pokdarwis menawarkan dua opsi utama bagi wisatawan yang hendak jadi pelaku usaha angkringan. Paket sekolah angkringan (dasar) dibanderol dengan harga Rp 1 juta.

Melalui paket tersebut, akan mendapatkan pelatihan usaha angkringan selama empat hari.

Sudah termasuk dengan fasilitas penginapan dan makan selama di Desa Ngerangan. Nantinya juga akan mendapatkan sertifikat.

”Pengunjung bisa memilih paket wisata edukasi angkringan yang lengkap dengan harga Rp 4 juta. Mendapatkan fasilitas pelatihan selama empat hingga lima hari. Begitu juga penginapan dan makan selama di Ngerangan. Ditambah perlengkapan alat berupa gerobakan angkringan lengkap sehingga sudah siap untuk berjualan,” ujar Suwarna.

Materi yang diberikan dalam pelatihan mulai dari racikan teh yang disesuaikan dengan selera lokal.

Seperti teh dengan merek tertentu di Solo, Yogyakarta maupun Magelang yang memiliki kekhasan masing-masing. Begitu juga dengan menu nasi kuci dan sate-satean.

”Ada juga paket meracik teh dan jahe masing-masing Rp 25 ribu per orang. Minimal peserta 10 orang,” tambah Suwarna.

Pelatihan dalam paket wisata edukasi angkringan itu tidak hanya sekadar meracik teh semata.

Tetapi juga akan diajarkan terkait strategi bertahan, sehingga tidak hanya berfokus pada teknik kuliner. Melainkan strategi bisnis yang membuat angkringan Ngerangan bisa bertahan dan berkembang.

”Nantinya akan kami ajarkan cara memilih tempat berdagang, seperti lokasi dekat rumah sakit, kampus atau simpang empat yang strategis serta memiliki area parkir memadai. Termasuk trik agar bisnis dapat bertahan lama dan bagaimana menarik pelanggan,” ujar Suwarna.

Wisatawan yang mengikuti paket wisata edukasi angkringan juga akan dikenalkan dengan kebiasaan penggunaan tiga ceret pada setiap gerobaknya. Berisikan racikan minuman jahe dan air mendidih yang siap disajikan ke konsumen.

Termasuk mengajaran sistem atau model bisnis yang unik, yaitu hubungan antara juragan (pemilik modal) dan prembe (mitra juragan angkringan).

Yakni juragan hanya menitipkan makanan dan perlengkapkan, sedangkan yang bertanggungjawab pada penjualan dan lokasi adalah prembe.

”Juragan tidak menggaji prembe, melainkan perempe mengambil untung dari selisih harga jual dan harga setor. Terutama dari minuman dan sate,” Suwarna.

Saat ini sudah ada tujuh orang yang mengambil paket wisata edukasi angkringan di Ngerangan.

Salah satunya dengan membuka usaha angkringan di daerah Piyungan, DIY. Hingga saat ini masih terus mendapatkan pendampingan dari jarak jauh atas perkembangan usahanya.

Dia berharap, kehadiran paket wisata edukasi angkringan itu tidak hanya untuk meningkatkan penerimaan desa. Tetapi juga menyebarkan ilmu kewirausahaan kepada masyarakat luas.

Sejalan dengan visi Desa Ngerangan sebagai Desa Wisata Berkembang menuju Mandiri. (ren/adi)

Editor : Adi Pras
#angkringan #klaten #solo #bayat #festival desa wisata #yogyakarta #magelang #teh