RADARSOLO.COM – Di sudut kawasan Baluwarti, Surakarta, berdiri sebuah ndalem bersejarah yang kini menjadi ruang hidup bagi pelestarian budaya Jawa. Di tempat itulah Doni Susanto, cucu Raden Ngabehi Atmo Supomo berupaya menjaga denyut Wayang Beber agar tetap dikenal generasi masa kini.
Galeri Naladarma Baluwarti Surakarta yang dia kelola menjadi titik temu antara tradisi, edukasi, dan inovasi.
Wayang Beber, menurut Doni, berasal dari kata “beber” yang merujuk pada gulungan gambar cerita yang dibuka dan digulung saat pementasan.
Media visual ini mengisahkan cerita panji dengan pola pementasan yang sarat pakem dan filosofi. Namun, pakem lama tersebut diakuinya tidak sepenuhnya dapat diterapkan pada konteks zaman modern.
“Wayang Beber itu dasarnya dari kata ‘beber’, yakni gulungan gambar cerita wayang atau panji yang dibuka dan digulung. Jika mengacu pada pakem pementasan dahulu, tentu tidak seluruhnya dapat diterima di zaman sekarang,” ujar Doni kepada Jawa Pos Radar Solo.
Di galeri yang berada di Ndalem Atmosupomo, koleksi Wayang Beber ditampilkan sesuai pakem karena keterkaitan historis dengan sang eyang.
Raden Ngabehi Atmo Supomo dikenal sebagai juru sungging resmi Wayang Beber yang ditunjuk oleh Kraton Kasunanan. Dia lahir pada 1895 dan wafat pada 1963, melewati beberapa era kepemimpinan Sinuhun di Keraton Kasunanan Surakarta.
“Di galeri Naladarma ini, Wayang Beber ditampilkan sesuai pakem karena eyang saya merupakan pelukis resmi yang ditunjuk Kraton Kasunanan. Kemungkinan beliau mengalami masa kecil di era Sinuhun ke-X, kemudian remaja hingga wafat di era Sinuhun XI dan XII,” tuturnya.
Sebagai pelukis Wayang Beber, Raden Ngabehi Atmo Supomo menggambar sesuai pesanan Sinuhun, termasuk pawukon dan berbagai episode cerita panji.
Dalam satu rangkaian cerita terdapat 24 jagong atau frame visual yang membentuk alur kisah seperti Sekartaji dan Panji Asmoro Bangun. Karya tersebut tidak sekadar visual, tetapi juga menjadi media naratif yang menghidupkan tradisi tutur Jawa.
Pakem tersebut kemudian diteruskan oleh muridnya, Joko Sriyono. Dia mempertahankan penggunaan aksara Jawa sebagai narasi di bawah gambar Wayang Beber. Hal ini memudahkan dalang saat pementasan karena dapat mengembangkan cerita berdasarkan teks yang telah tersedia.
Namun, praktik tersebut kini semakin jarang ditemui. Banyak Wayang Beber modern tidak lagi dilengkapi narasi aksara Jawa di bagian bawahnya. Fenomena ini menjadi salah satu tantangan dalam menjaga keaslian tradisi.
Selain sebagai galeri, Ndalem Atmo Supomo yang beralamat di kampung Hordenasan II no. 80 Baluwarti Surakarta, juga menjadi ruang kreatif dengan berbagai program kolaborasi.
Salah satunya kerja sama dengan Baluwarti Experience yang menghadirkan kartu soliter dan teka-teki silang berbasis aksara Jawa. Program tersebut pernah diperkenalkan kepada Wakil Wali Kota Surakarta saat berkunjung ke lokasi.
“Ndalem ini tidak hanya sebagai galeri Wayang Beber. Kami juga bekerja sama dengan Baluwarti Experience membuat kartu soliter dan teka-teki silang beraksara Jawa. Program ini sempat diperkenalkan saat Ibu Wakil Wali Kota, Astrid, berkunjung ke sini,” jelas Doni.
Bagi Doni, kegiatan kreatif tersebut merupakan upaya mengingatkan masyarakat Jawa terhadap akar budaya.
Dia menilai pelestarian tidak hanya sebatas pertunjukan seni, tetapi juga praktik sehari-hari seperti bahasa, sopan santun, dan tulisan. Aksara Jawa dipandang sebagai identitas yang perlu dihidupkan kembali.
Selama empat tahun galeri dibuka, Doni menyadari banyak masyarakat baru mengetahui keberadaan Wayang Beber. Sebagian besar pengunjung sebelumnya hanya mengenal Wayang Kulit dan Wayang Orang. Kondisi ini menunjukkan literasi budaya terhadap kesenian tradisional tertentu masih terbatas.
Minimnya kemampuan membaca aksara Jawa juga menjadi keprihatinan tersendiri. Doni menilai kondisi tersebut bukan sepenuhnya kesalahan generasi muda. Ia menyoroti peran lingkungan, orang tua, dan pendidik yang belum optimal mengenalkan warisan budaya.
Dalam pengembangan galeri, Doni mendapat dukungan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Bantuan berupa hibah perlengkapan serta inovasi pementasan diberikan untuk meningkatkan daya tarik Wayang Beber.
Inovasi pementasan dilakukan tanpa menghilangkan esensi cerita. Wayang Beber kini dipadukan dengan elemen Wayang Kulit, dalang yang lebih interaktif, serta musik pengiring yang lebih hidup. Format ini diharapkan mampu menjembatani selera generasi muda dengan tradisi klasik.
Rencana pementasan Wayang Beber juga telah disiapkan pada pertengahan April mendatang. Doni bersama rekan-rekan dari ISI Surakarta akan menghadirkan pertunjukan dengan konsep yang lebih segar. Namun, keterbatasan dana masih menjadi kendala utama dalam menggelar pementasan rutin.
Keinginannya untuk mengadakan pertunjukan pada weton sang eyang pun belum dapat terwujud.
Dia mengakui pelestarian budaya membutuhkan dukungan finansial dan partisipasi masyarakat luas. Tanpa kolaborasi tersebut, kesinambungan tradisi akan sulit dipertahankan.
“Kalau rutin memang belum bisa karena kendala biaya. Selain itu, kami masih bergantung pada teman-teman di ISI Surakarta. Saya ingin menampilkan pentas pada weton simbah, tetapi hal itu membutuhkan donasi dan dukungan banyak pihak,” katanya.
Kini, di usia yang tidak lagi muda, kekhawatiran terbesar Doni adalah ketiadaan penerus yang memahami Wayang Beber secara pakem. Dia menyadari realitas bahwa pelestarian budaya juga berkaitan dengan aspek ekonomi.
Tanpa insentif yang memadai, minat generasi muda untuk mendalami kesenian tradisional cenderung menurun.
“Yang saya takutkan itu tidak ada penerus secara pakem karena faktor ekonomi. Tidak perlu munafik, semua orang tentu mempertimbangkan keuntungan,” ujarnya.
Salah satu karya Wayang Beber milik Joko Sriyono sepanjang 21 meter kini menjadi perhatian khusus. Proses pewarnaannya sempat terhenti akibat kondisi kesehatan sang pelukis. Doni kemudian berinisiatif menggandeng mahasiswa ISI Surakarta untuk menyelesaikan karya tersebut.
“Awal tahun ini saya berdiskusi dengan dekan dan rekan-rekan ISI Surakarta agar karya ini bisa diselesaikan. Tantangannya adalah menjaga hasil pewarnaan tetap sesuai keinginan pelukis aslinya. Setelah melalui proses yang tidak mudah, akhirnya mahasiswa ISI dilibatkan,” ungkapnya.
Proses penyelesaian dilakukan dengan komunikasi intensif antara Doni, pelukis asli, dan mahasiswa. Hal ini penting agar pewarnaan tetap sesuai konsep awal. Pengerjaan dilakukan di kampus ISI Surakarta mengingat kompleksitas teknis dan waktu yang dibutuhkan. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy