Bupati Wonogiri Joko Sutopo menilai, ada semangat olahraga di balap lari yang dilakukan tengah malam itu. Misalkan aktivitas tersebut akan berlangsung dalam jangka panjang, pemkab akan memfasilitasinya.
“Kalau bicara lari, itu sangat positif. Cuma kata liar ini harus dibedah. Kalau semisal lari malam-malam, ya okelah. Mungkin dinamika di mana orang jenuh dengan kondisi saat ini (pandemi). Asal protokol kesehatannya terpenuhi, bagi saya tidak ada masalah," beber bupati yang akrab disapa Jekek itu.
Sebab itu, pemkab siap menampung aspirasi. Selanjutnya, akan dikaji daya tarik balap lari tersebut. "Kalau konsisten, semua pihak akan kami undang. Kami bisa desain menjadi daya tarik yang dimiliki Wonogiri. Mungkin bukan lari liar. Kami dorong lari rutenya Gunung Gandul kan bisa, berani nggak? Jadi bisa diolah untuk dipandang menjadi kegiatan positif," terangnya.
Terpisah, Kapolres Wonogiri AKBP Christian Tobing mengatakan, setiap kegiatan yang menimbulkan kerumunan bisa dibubarkan.
"Pada prinsipnya, semua acara atau kegiatan yang menimbulkan kerumunan pasti kami bubarkan," ungkapnya.
Menurut kapolres, anggota telah dikerahkan untuk melakukan patroli dan membubarkan balap lari jalanan tersebut karena belum berizin dan berpotensi mendatangkan massa.
Ditegaskan mantan kapolres Belu Nusa Tenggara Timur itu, meski kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Wonogiri bisa dibilang mulai landai, pihaknya tak ingin masyarakat mengabaikan protokol kesehatan.
"Kita tidak boleh abai. Kami minta masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan. Kami semua harus paham. Saat ini pandemi masih berlangsung. Covid-19 masih ada," tegas dia.
Diberitakan sebelumnya, balap lari jalanan tersebut disosialisasikan lewat media sosial. Begitu juga dengan pendaftaran pesertanya. (al/wa/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra