WONOGIRI - Harga tanah di sekitar Jalan Lintas Selatan (JLS) Kecamatan Pracimantoro naik perlahan. Kini, harga tanah mencapai Rp 400 ribu-Rp 600 ribu per meter persegi.
Camat Pracimantoro Warsito mengatakan, salah satu dampak atas dirancangnya Wonogiri selatan (Pracimantoro, Giritontro, dan Giriwoyo) menjadi kawasan industri adalah naiknya harga tanah di sekitar JLS. Harga tanah yang mulai naik itu berada di sekitar JLS yang mengarah ke timur ataupun ke barat.
"Harga tanah naiknya secara bertahap," kata Warsito.
Menurut dia, sebelum JLS jadi, harga tanah di sekitar jalan itu hanya RP 50 ribu per meter persegi. Usai JLS rampung digarap sekitar 2015-2016, harga tanah mulai merangkak naik menjadi Rp 200 ribu per meter persegi. Bahkan, kini mencapai Rp 400 ribu per meter persegi.
"Tahun 2020 sampai akhir-akhir ini lokasi tanah yang strategis harganya bisa sampai Rp 400 ribu. Mungkin karena ada wacana jadi kawasan industri juga. Sebelumnya, di sekitar JLS sekitar Rp 200 ribu," jelas Warsito.
Harga tanah sebesar itu sudah dianggap lumayan mahal oleh warga setempat. Sebab, kata dia, sebelum JLS dan wacana kawasan industri ada, tanah di sana seperti tak berharga.
"Ibarat lemah ora ono regane, tapi sekarang harganya naik jadi segitu," kata dia.
Dengan didorongnya investor untuk masuk ke Wonogiri selatan, dimungkinkan harga tanah di Pracimantoro akan terus mengalami kenaikan. Apalagi yang ada di kawasan JLS. Setidaknya ada lima desa di Kecamatan Pracimantoro yang dilalui JLS, yakni Desa Pracimantoro, Suci, Sambiroto, Watangrejo, dan Kelurahan Gedong.
Warsito mengatakan, di sekitar JLS saat ini ada pabrik yang sedang dibangun. Pabrik itu berada di Desa Sambiroto dan Jimbar, seluas 14 hektare. Infonya di sana akan digunakan untuk investasi penetasan telur ayam. (al/ria)
(rs/ria/per/JPR) Editor : Perdana Bayu Saputra