Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri Bambang Haryanto mengatakan, salah satu penyebab terjadinya gempa adalah akibat pergeseran lempengan. Apabila ini sering terjadi maka maka sangat berpotensi memicu banyak gempa.
“Jadi kalau pernah terjadi pergeseran lempengan suatu saat bisa terjadi lagi dan mengakibatkan gempa. Makanya kita harus waspada,” kata dia.
Sebelumnya, Selasa (27/7) lalu gempa yang berpusat di laut 95 kilometer arah tenggara Pacitan Jawa Timur terasa hingga Wonogiri. Sejauh ini memang belum ada kerusakan atau dampak akibat gempa berkekuatan magnitudo 5,2 itu di Wonogiri. Namun, bila ini terjadi lagi dengan kekuatan lebih besar maka bisa memicu kerusakan lebih parah.
“Jadi gempa besar tidak hanya bisa mengakibatkan tsunami saja. Bisa mengakibatkan longsor bahkan merobohkan bangunan,” jelas dia.
Objek-objek vital juga bisa terdampak gempa besar dengan magnitudo 9 atau lebih. Salah satunya adalah Waduk Gajah Mungkur Wonogiri. Area itupun sudah dipasangi alat early warning system (EWS). Selain itu, ada sejumlah waduk lain juga rawan terimbas.
“Di Wonogiri kan ada beberapa waduk. Namanya juga bangunan buatan manusia kalau misal ada gempa kekuatannya sangat besar bisa saja terjadi retakan,” kata Bambang.
Saat terjadi gempa bumi masyarakat tidak panik. Namun, harus ada persiapan-persiapan sejak dini untuk mengantisipasi terjadinya gempa sehingga masyarakat bisa melakukan evakuasi secara mandiri.
“Yang jelas tidak perlu panik, segera cari tempat aman. Di wilayah selatan Wonigiri juga sudah sering kami lakukan simulasi mitigasi kalau terjadi tsunami,” kata dia.
Apabila terjadi gempa besar dan menimbulkan tsunami di pesisir selatan Wonogiri dampaknya diprediksi kecil. Pasalnya, air terhalang tebing pantai yang tinggi sebelum menuju pemukiman warga.
“Simulasi tidak hanya melibatkan warga, namun juga bersama pemilik warung di sekitar pantai dan wisatawan. Dengan begitu, semua orang sudah mengetahui apa yang harus diperbuatnya saat terjadi gempa yang mungkin bisa menimbulkan tsunami,” ujarnya. (al/bun/dam) Editor : Damianus Bram