Puluhan warga itu menghubungi kantor Dinas Sosial (Dinsos) Wonogiri dan Puskesmas II Wonogiri menanyakan proses untuk bisa adopsi bayi tersebut.
“Ada proses cukup panjang untuk bisa mengadopsi. Tapi kami tentunya berharap orang tua bayi atau keluarganya dapat ditemukan,” terang Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Wonogiri Kurnia Listyarini, Rabu (25/8).
Proses adopsi itu antara lain menunggu proses hukum sekitar tiga bulan. Ketika ditemukan orang tua atau keluarganya, maka bayi diprioritaskan untuk dikembalikan kepada keluarga.
“Ketika dalam tiga bulan keluarga bayi tidak ditemukan, polisi membuat surat penghentian kasus. Lalu diumumkan ke masyarakat,” paparnya.
Syarat adopsi bayi lainnya, lanjut Kurnia, yakni latar belakang keluarga harus memiliki kemampuan ekonomi. Seleksi dilakukan hingga tingkat provinsi dan harus sidang di pengadilan.
Saat ini, bayi perempuan tersebut dirawat di sebuah klinik bidan Puskesmas II Wonogiri di Kecamatan Bulu, Sukoharjo milik salah seorang bidan Puskesmas II Wonogiri.
Menurut Kurnia, seharusnya bayi temuan diasuh di panti, puskesmas atau rumah sakit. Namun dari sepuluh panti di Wonogiri, belum ada yang mengasuh bayi. "Panti di sini mengasuh anak sekolah. Perawatan di klinik bidan tersebut sudah ada koordinasi dengan puskesmas,” urainya.
Di lain sisi, Kurnia mengatakan, banyak anak yang terdampak Covid-19. Ada yang menjadi yatim piatu, hingga telantar karena keterbatasan ekonomi keluarga. “Mereka juga butuh uluran tangan. Warga bisa menjadi orang tua asuh,” jelas dia.
Sementara itu, Ketua Bhayangkari Cabang Wonogiri Nadia Dydit D.S dan rombongan siang kemarin menengok bayi yang dibuang tersebut. Mereka membawa bingkisan untuk keperluan bayi. "Kok tega ya (membuang bayi). Anaknya cantik sekali ini," ujar Nadia. (al/wa/dam) Editor : Damianus Bram