Kelurahan Punduhsari memang dikenal sebagai sentra rancak gamelan. Utamanya di Lingkungan Jatibedug.
Eko Wiyono, perajin rancak gamelan di Lingkungan Jatibedug RT 02 RW 03 Kelurahan Punduhsari mengatakan, sudah sejak lama, mayoritas warganya menjadi perajin rancak gamelan. Totalnya sekitar 300 orang.
"Saya sejak 1999 sudah mulai produksi rancak. Memang ingin melestarikan budaya," ujarnya ditemui di rumah produksinya, Jumat (15/4).
Komir, sapaan akrab Eko Wiyono menerangkan, pandemi sangat berpengaruh terhadap pesanan rancak gamelan. Orderan sepi. Periode Januari-Agustus 2021, rancak buatanya tak laku satu set pun. "Saya tampung di gudang sampai penuh," katanya.
Meski nihil pesanan, Komir tetap berproduksi. Mengingat karyawannya juga membutuhkan penghasilan. Namun, jumlah pekerja dikurangi, dari 36 orang menjadi 17 orang karena tak mampu membayar.
Sebelum pandemi, dalam satu bulan, Komir dan timnya bisa membuat sekitar 15 set rancak gamelan. Ketika Corona mewabah, produksi direm.
Dia mengaku, uang modal senilai Rp 3,5 miliar dihabiskan untuk membuat rancak gamelan yang hanya menumpuk di gudang. Beruntung, dalam sepuluh hari terakhir, pesanan mulai datang. Di antaranya dari Banjarnegara dan Banyumas.
Rancak gamelan satu set laras slendro dan pelog dengan bahan kayu mahoni yang diukir dijual Rp 17,5 juta hingga Rp 22,5 juta. “Kalau bahannya kayu jati, harganya Rp 35 juta sampai Rp 55 juta satu set laras slendro dan pelog," ungkapnya.
Menurut Komir, jika pemerintah melonggarkan kebijakan pembatasan pementasan, di antaranya wayang kulit maupun campursari hingga malam hari, maka diyakini penjualan rancak gamelan dan kehidupan pelaku seni bakal pulih.
Lurah Punduhsari Wahyudi mengatakan, perhatian utama di sektor permodalan bagi perajin rancak gamelan masih kurang. "Imbas dari pandemi sangat terasa. Produksi rancak gamelan jadi kurang lancar," ucapnya. (al/wa/dam) Editor : Damianus Bram