Adapun lima sub DAS penyumbang sedimentasi lainnya yakni Wiroko, Temon, Solo Hulu, Alang Unggahan dan Wuryantoro.
Itu terungkap dalam rapat koordinasi Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GN-KPA) yang digekar Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penelitian Pengembangan (Bappeda & Litbang) Wonogiri, Kamis (14/7).
Dalam rakor tersebut ada masukan dari sejumlah pihak agar ada penanganan sedimentasi di sejumlah DAS Bengawan Solo di Wonogiri dengan total luas 128.286,20 hektare.
“Nanti kami lihat dulu. Misalnya di DAS Keduang, sedimentasinya seperti apa. DAS lainnya kan juga perlu kami sentuh. DAS lain (di Wonogiri) kan juga ada yang menyumbang sedimentasi ke Waduk Wonogiri (Waduk Gajah Mungkur),” tutur Kabid Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air (OP SDA) Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo Sri Wahyu Kusumastuti.
Untuk DAS Wiroko, Wahyu mengaku sudah menyusun rencana konservasi tingkat desa (RKTD). Hanya saja belum diimplementasikan. "RKTD-nya kami review lagi bersama KKTA (kelompok konservasi tanah dan air). Masalah disana juga terkait sedimentasi," jelasnya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penelitian Pengembangan (Bappeda & Litbang) Wonogiri Heru Utomo mengatakan, rakor GN-KPA bertujuan mengembalikan siklus hidrologi di DAS. Mengingat Wonogiri memiliki posisi strategis karena berada di hulu Sungai Bengawan Solo.
Heru mengaku telah menyampaikan kepada satker kementerian terkait dan Provinsi Jateng terkait posisi strategis Wonogiri dalam pelestarian sumber daya air. Pemkab Wonogiri meminta agar area hulu dijaga bersama.
“Tidak hanya dibebankan kepada Pemkab Wonogiri. Kami ambil contoh air yang sangat krusial, pertama di WGM, lalu Waduk Pidekso," ujarnya.
Lebih lanjut diterangkan Heru, air dari WGM tak hanya digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Namun juga irigasi dan dalam waktu dekat untuk jaringan air bersih Wosusokas. Jaringan air bersih itu nantinya dinikmati masyarakat Wonogiri, Kota Solo, Sukoharjo, dan Karanganyar. (al/wa/dam) Editor : Damianus Bram