RADARWONOGIRI.COM-Setelah makam-makam lawas di Kecamatan Wuryantoro bermunculan ke permukaan, kini bangunan kuno di Betal Lama menunjukkan wujudnya. Seiring debit air Waduk Gajah Mungkur (WGM) terus menyusut.
Bangunan yang menyisakan fondasinya itu berada di Desa Gebang, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri. Ada bibir sumur dan tembok lawas.
Kepala Desa (Kades) Gebang Kecamatan Nguntoronadi Kadiman menerangkan, para warga yang dulunya mendiami wilayah Betal Lama itu ikut program transmigrasi di tiga daerah. Salah satunya ke Sitiung, Sumatera Barat.
Ada juga yang memilih menempati lahan yang tidak terendam genangan WGM. Salah satunya di Desa Gebang.
Di Desa Gebang (dulunya masuk wilayah Nguntoronadi), warga berpindah ke lokasi yang saat ini masuk Dusun Tenggarlor dan Tenggarkidul.
"Yang bergeser itu termasuk saya. Usia saya waktu itu sekitar 14 tahun. Kelas VI SD kalau tidak salah," kata Kadiman di Betal Lama, Senin (18/9/2023).
Kadiman masih ingat betul sejumlah bangunan yang dulunya ada Betal Lama. Di antaranya rumah kades, bangunan sekolah, dan jembatan.
"Area ini dulunya pusat pemerintahan di Betal Lama. Ada kantor kecamatan, kantor kepolisian dan koramil. Dulu sini namanya Desa Betal. Kecamatannya Nguntoronadi," jelas dia.
Selain itu, ada pasar yang dulunya ramai. Tempat menjual hasil panen petani.
Ditambahkan Kadiman, saat transmigrasi, ada warga yang memilih pindah secara berbondong-bondong. Ada pula yang menunggu terlebih dahulu dan saat genangan air sudah mendekati rumahnya, baru boyongan.
Sedimentasi WGM berdampak ke puing bangunan yang tersisa di Betal Lama. Tanah makin meninggi di area setempat.
"Dulu (bibir) sumur ini setinggi perut (orang dewasa). Tapi karena sedimentasi, sekarang tertutup tanah sebagian," kata Kadiman sambil menunjuk sebuah sumur tak jauh dari puing yang didudukinya.
Kalau tidak tertutup sedimentasi, imbuh Kadiman, bisa saja puing-puing sisa Betal Lama masih banyak yang terlihat. Dia juga khawatir dengan sedimentasi yang ada di WGM.
"Kalau makin tinggi, bisa saja nanti ketutup tanah semua. Bekas Betal Lama hilang," katanya.
Di lain sisi, masih ada sejumlah keluarga transmigran yang sesekali pulang untuk berziarah ke tempat tinggalnya atau orang tuanya di Betal Lama. Biasanya, mereka datang saat musim kemarau, dimana puing-puing Betal Lama terlihat.
Adakah rencana mengembangkan sebagai tempat wisata musiman? Kadiman mengatakan, dahulu ada event di Betal Lama saat kemarau. Selain sebagai rekreasi, juga mengenang sejarah.
Sayangnya, pihak desa mengaku sulit mengembangkan potensi wisata karena keterbatasan anggaran.
Camat Nguntoronadi Endrijo Rahardjo menambahkan, saat kemarau, cukup banyak pengunjung ke Betal Lama.
"Kalau sore banyak yang ke sini. Ada yang dari Karanganyar juga," ucapnya. (al/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono