Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Masih Utang Gaji Pekerja dan Sebagainya Senilai Rp 3 Miliar, Perusahaan Penggemukan Ayam di Wuryantoro Wonogiri Didemo

Iwan Adi Luhung • Rabu, 8 Mei 2024 | 01:44 WIB
Unjuk rasa di akses masuk PT WMU Wuryantoro, Wonogiri, Selasa (7/5/2024).
Unjuk rasa di akses masuk PT WMU Wuryantoro, Wonogiri, Selasa (7/5/2024).

RADARSOLO.COM-Mandor dan vendor PT Widodo Makmur Unggas (WMU) Wuryantoro, Wonogiri menggelar aksi demonstrasi, Selasa (7/5/2024).

Pantauan radarsolo.com di lokasi aksi, ada sekira 20 orang yang berunjuk rasa di akses masuk menuju PT WMU Wuryantoro.

Massa yang menamakan diri Komunitas Mandor-Vendor (Komodo) WMU-WMP itu tiba di lokasi sekira pukul 12.50.

Massa membawa sejumlah pamflet. Di antaranya bertuliskan "Bayar Keringat Kami", "Kami Korban Janji" dan sebagainya.

Komodo menuntut pertanggungjawaban manajemen PT WMU untuk segera menyelesaikan kewajibannya pembayaran gaji kepada para pekerja, mandor, supplier dan vendor yang tergabung dalam Komodo WMU-WMP maksimal satu bulan sejak aksi digelar.

Apabila tuntutan diabaikan, Komodo WMU-WMP akan melanjutkan perjuangan dengan melakukan gugatan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) kepada PT WMU ke Pengadilan Niaga.

Komodo WMU WMP juga meminta perlindungan hukum kepada pemangku kebijakan atas masalah yang dihadapi.

Memohon untuk meninjau kembali perizinan PT WMU dan PT Widodo Makmur Perkasa (WMP) atas dampak yang ditimbulkan terhadap UMKM dan pekerja di sekitar Wonogiri.

Sekira pukul 13.30, unjuk rasa yang dilakukan secara damai dan dijaga oleh kepolisian itu berakhir. Massa membubarkan diri secara tertib.

Ditemui usai unjuk rasa, Sekretaris Komodo Mardeki mengatakan, masalah ini bermula saat vendor dan suplier bekerja sama dengan PT WMU untuk membangun kandang ayam sejak 2021.

"Seiring berjalannya waktu, hak kami untuk mendapatkan pembayaran belum selesai," ungkap Mardeki.

Sisa pembayaran yang belum dilunasi oleh PT WMU antara Rp 2,5 miliar hingga Rp 3 miliar.

Baca Juga: Karang Taruna di Kabupaten Karanganyar Digelontor Dana Hibah Rp 466 Juta

Itu dari beberapa vendor dan supplier. Diantaranya baja, sipil, pengecoran dan rekanan toko bangunan.

Karena itu, pihaknya berharap ada respons baik dari manajemen.

Mardeki mengakui sudah beberapa kali pihaknya melakukan mediasi dengan komisaris perusahaan.

Sudah ada janji pelunasan dari perusahaan, namun sisa pembayaran masih besar.

Menurut Mardeki, perusahaan juga sudah berjanji untuk melakukan pelunasan segera. Namun, pihaknya butuh kepastian waktu.

"Karena belum terealisasi, akhirnya kita ambil langkah ini (unjuk rasa). Ini baru langkah awal, karena kami kemarin masih menunggu (kepastian dari manajemen perusahaan)," beber dia.

Mardeki mencontohkan, rekannya ada yang punya tagihan sekira Rp 900 juta.

Oleh perusahaan, ada yang dibayar per 2 atau 3 bulan senilai Rp 5 juta. Karena resah, pihaknya ingin kepastian.

"Deadline pelunasan satu bulan setelah aksi. Kalau tidak ada tanggapan kita akan melangkah ke PKPU," terang Mardeki.

Pihaknya belum memikirkan apakah akan membawa permasalahan ini ke DPRD Wonogiri untuk dilakukan hearing.

Terpisah, Legal Officer PT WMU Sugiyanto mengatakan, sebelumnya juga pernah ada aksi namun akhirnya ada mediasi.

Pihaknya memfasilitasi mandor dan vendor untuk bertemu dengan pemilik perusahaan.

Namun, dia mengaku tak mengetahui hasil pertemuan di Jakarta itu.

Baca Juga: KPU Klaten Buka Pendaftaran Calon Perseorangan Pilkada 2024, Ini Syaratnya

Sugiyanto menuturkan, PT WMU saat ini sedang berada di masa susah. Saat ini, pihaknya menyusun kekuatan perusahaan.

WMP Group juga melakukan permohonan restrukturasi dengan perbankan. PT WMU dan WMP Group telah melakukan penjajakan dengan calon investor.

"Perusahaan meminta maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan teman-teman mandor dan vendor. Tapi kami punya iktikad baik untuk menyelesaikan," kata dia.

Terkait batas waktu pelunasan pembayaran mandor dan vendor, imbuh Sugiyanto, dia tidak bisa menyampaikannya.

Sebab, dia bukanlah orang yang memutuskan hal tersebut.

"Tapi dari perusahaan komitmen menyelesaikan utang-utang kita," kata dia.

Dikonfirmasi soal nilai tunggakan yang disebut mencapai Rp 2,5- Rp 3 miliar, pihaknya juga akan memverifikasi nilai tunggakan terlebih dahulu.

Lebih jauh, Sugiyanto mengatakan, gedung PT WMU di Wuryantoro itu dibangun sekira 2019.

Berdiri di lahan seluas 11 hektare, lokasi itu digunakan untuk penggemukan ayam.

Total ada 10 kandang di sana. Satu kandang bisa menampung 100 ribu ayam. Namun, 10 kandang itu belum pernah terisi seluruhnya.

Sudah sekira dua bulan ini aktivitas di perusahaan setempat off.

Perusahaan berencana mulai mengisi kandang ayam sedikit demi sedikit dalam waktu dekat.

" Saat pandemi kan kami berbenturan dengan banyak hal," terangnya. (al/wa)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#Vendor #mandor #utang #wuryantoro #wonogiri #PT Widodo Makmur Unggas #demonstrasi