Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Kendalikan Cemas dengan Memahami Faktor Penyebabnya, Simak Penjelasan Psikolog Klinis RSUD Wonogiri

Tri wahyu Cahyono • Selasa, 9 Juli 2024 | 20:59 WIB
Fransisca Anindya Mariesta Prabawati, psikolog klinis RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso, Wonogiri memberikan pelayanan konsultasi.
Fransisca Anindya Mariesta Prabawati, psikolog klinis RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso, Wonogiri memberikan pelayanan konsultasi.

RADARSOLO.COM – Merasa cemas, pasti pernah dialami setiap individu. Kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor.

Berikut penjelasan Fransisca Anindya Mariesta Prabawati, psikolog klinis RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso, Wonogiri.

Sebelum membahas tentang faktor-faktor penyebab kecemasan, Fransisca memberikan ilustrasi sederhana sebagai berikut:

“Hari ini aku akan ujian skripsi. Ujianku jam 10.00 WIB. Semenjak kemarin aku sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk ujianku,”.

“Entah kenapa semenjak bangun tidur pagi ini aku tidak berhenti ke toilet untuk buang air kecil. Bisa lebih dari 5 kali dalam pagi ini,”.

“Pukul 09.00 WIB aku mengendarai sepeda motorku ke kampus. Di jalan jantungku rasanya berdebar lebih cepat, sampai aku hampir menabrak orang yang akan menyeberang jalan,”.

“Sesampainya di kampus, aku menuju ruang ujian. Di depan ruang ujian keringat dingin semakin deras keluar. Aku semakin sering buang air kecil. Bahkan aku merasakan mual yang amat sangat di perutku,”.

Ilustrasi di atas menggambarkan seseorang dalam kondisi kecemasan yang berujung pada psikosomatis.

Secara klinis menurut J.W Kalat dalam bukunya Biopsikologi kecemasan merupakan respon dari amigdala atas stimulus berupa ancaman, bahaya, kondisi dan situasi tidak nyaman pada individu.

“Setiap orang pasti pernah mengalami hal tersebut. Kecemasan sering muncul pada saat kita tidak dapat mengendalikan diri dan pikiran dalam merespons hal-hal yang tidak menyenangkan,” beber Fransisca.

Saat kita diminta untuk bertindak kali pertama atau mengerjakan suatu hal pertama, seringkali kecemasan ini muncul.

Perasaan mengenai keberhasilan atau kegagalan akan pekerjaan itu menjadi salah satu faktor timbulnya kecemasan.

Baca Juga: Harus Bijak Gunakan Antibiotik, Catat Penjelasan Kepala Instalasi Farmasi RSUD Wonogiri

Respons pertama yang muncul ketika kecemasan datang biasanya ditunjukkan dengan kaget, takut dan kemudian muncul dalam gejala fisik.

Seperti keringat dingin, jantung berdebar, sering ke toilet, atau bahkan rasa mual bahkan muntah. Tidak jarang individu menjadi sangat pusing dan bahkan pingsan.

Kecemasan tidak muncul begitu saja tanpa penyebab. Individu yang mengalami kecemasan tentu memiliki penyebab.

Penyebab kecemasan antara lain:

1. Faktor Genetik

Orang tua kadang mempertanyakan mengapa anaknya menjadi seseorang pencemas padahal tidak pernah dituntut untuk menjadi sempurna.

Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata anak memiliki orang tua yang memiliki kepribadian pencemas.

Faktor genetik menjadi salah satu faktor penyebab seseorang memiliki pribadi yang pencemas.

Gejala kecemasan semakin bertambah karena pola asuh dari orang tua yang memiliki kepribadian pencemas pula.

Contoh dalam pola asuh secara tidak sadar orang tua pencemas akan melarang anak untuk melakukan banyak kegiatan social, karena cemas anaknya akan mendapat bahaya.

Hal lain biasanya orang tua pencemas akan melakukan banyak cover pada anak dalam segala kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan sosial.

Selain itu, hal yang tidak disadari orang tua pencemas adalah mengkritik semua perilaku dan atau pekerjaan anak tanpa memberikan reward saat anak berperilaku atau melakukan pekerjaan yang benar.

Hal-hal tersebut akan membuat anak cemas untuk bertindak karena cemas apa yang akan dilakukannya salah.

Baca Juga: Kenali Ciri-Ciri Penyakit Jantung Bawaan pada Anak, Ini Penjelasan Dokter Spesialis Jantung RSUD Wonogiri

Selain itu, anak menjadi tidak mandiri dan setiap berkegiatan sosial akan merasa cemas karena merasa tidak ada orang tua yang melindungi dia.

2. Faktor Pengalaman Masa Lalu

Individu yang bukan pencemas dapat juga menjadi pencemas saat tidak dapat mengendalikan reaksi emosi yang berpusat pada amigdala.

Hal ini dapat disebabkan oleh pengalaman masa lalu. Pengalaman akan kegagalan lebih sering menimbulkan kecemasan daripada pengalaman akan keberhasilan.

Individu yang pernah mengalami kegagalan akan mempersiapkan segala sesuatu secara detail dan bahkan muncul perasaan selalu ada yang kurang dari apa yang sedang dipersiapkan.

Hal tersebut karena kecemasan akan kegagalan muncul kembali. Individu yang selalu berhasil dalam pekerjaan dan sekali waktu mendapatkan kegagalan, maka akan menjadi pribadi yang memiliki ambisi yang lebih tinggi.

Kecemasan pada individu yang selalu berhasil ini lebih kepada motivasi untuk meraih keberhasilannya kembali.

Faktor pengalaman masa lalu ini akan semakin kuat dengan adanya reaksi lingkungan sosial atas kegagalan yang yang dialami individu.

Sanksi masyarakat berupa gunjingan bagi para individu yang sering mengalami kegagalan juga menjadi salah satu faktor penguat kecemasan.

Kecemasan memiliki taraf dari ringan, sedang, hingga berat. Kecemasan ringan adalah kecemasan yang sering dialami oleh sebagian besar individu saat menghadapi situasi tidak menyenangkan atau menghadapi bahaya.

Contohnya seperti reaksi kaget dan takut. Namun individu masih dapat menyelesaikan sendiri dengan waktu yang cepat dalam hitungan detik atau menit.

Sedangkan dalam taraf sedang, sering dialami dengan reaksi fisik namun tidak berlebihan.

Contohnya adalah jantung berdebar atau tangan yang tiba-tiba terasa dingin saat menghadapi situasi tidak menyenangkan.

Baca Juga: Kenali Ciri-Ciri Penyakit Jantung Bawaan pada Anak, Ini Penjelasan Dokter Spesialis Jantung RSUD Wonogiri

Intensitas pada kecemasan taraf sedang gejala sudah mulai lebih sering muncul dibandingkan dengan taraf ringan.

Namun demikian, individu masih dapat menanggulangi sendiri dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.

Kecemasan dalam taraf yang berat adalah kecemasan yang memiliki gejala ekstrem, bahkan sudah berimbas pada sakit fisik seperti gerd, darah tinggi (karena reaksi emosi yang memaksa kognisi berpikir lebih berat dari biasanya).

Kelainan jantung (karena ritme jantung yang sering tidak teratur dan memaksa jantung bekerja lebih kencang).

Diabetes (karena konsumsi makanan yang tidak teratur akibat cemas yang dialami), dan beberapa penyakit lain yang jika diperiksa lebih lanjut penyebab utamanya adalah kecemasan.

Kecemasan berat sudah pasti memerlukan farmakoterapi dari psikiater untuk meminimalkan gejala kecemasan.

Hal ini juga akan membantu individu lebih tenang dan nyaman melakukan aktivitas sehari-hari.

Tentu saja diimbangi dengan niat dan reaksi dari individu untuk semakin meminimalkan gejala kecemasan.

Pertolongan pertama yang dapat dilakukan oleh individu saat merasa cemas adalah dengan mengambil waktu sejenak saat menghadapi situasi tidak menyenangkan.

Individu dapat mengatur napas hingga kembali pada kesadarannya, sehingga dapat membantu lebih fokus dalam melakukan pekerjaan atau menghadapi situasi tidak menyenangkan.

Individu juga dapat melakukan peluk kupu-kupu. Peluk kupu-kupu dilakukan dengan cara memeluk diri sendiri dengan kedua tangan sambil mengelus lengan secara perlahan sambil mengatakan pada diri sendiri “semua baik-baik saja”.

Peluk kupu-kupu dapat diulangi hingga perasaan lebih tenang. Hal yang paling penting adalah memiliki mind set bahwa segala sesuatu yang datang pada diri adalah positif dan segala perkara dapat diselesaikan secara bijaksana.

Selain itu, peningkatan kegiatan rohani dan keagamaan juga sangat diperlukan untuk mengatasi kecemasan.

Baca Juga: Tangkal Ganasnya Kanker Paru, RSUD Wonogiri Aktif Sosialisasikan Pencegahan Sejak Dini

Alangkah baiknya jika individu dapat mengatasi kecemasan secara mandiri.

Namun demikian, jika sudah membutuhkan bantuan psikolog dan atau psikiater untuk mengatasi kecemasan, segera hubungi para profesional tersebut agar tidak salah penanganan yang dapat memperparah gejala kecemasan. (*)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#RSUD Wonogiri #psikolog klinis #faktor penyebab #Fransisca Anindya Mariesta Prabawati #Kecemasan