Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Begini Alasan Tradisi Menunggu Makam selama 40 Hari di Kecamatan Giriwiyo Wonogiri Masih Bertahan

Iwan Adi Luhung • Selasa, 16 Juli 2024 | 20:54 WIB
Salah satu makam di Kecamatan Giriwoyo yang dijaga selama 40 hari 40 malam.
Salah satu makam di Kecamatan Giriwoyo yang dijaga selama 40 hari 40 malam.

RADARSOLO.COM – Di wilayah Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri, warga yang meninggal di hari pasaran tertentu, mendapat perlakukan tak biasa.

Seperti nampak di salah satu pemakaman di Kecamatan Giriwoyo. Pada umumnya, makam identik sepi, tidak berbeda dengan yang ini.

Sebuah tenda terpal berdiri di area makam. Lengkap dengan galon air mineral, alat makan, dan sebagainya.

Mereka yang ada ditenda, menunggu salah satu makam di kompleks pemakaman.

Berdasarkan kepercayaan warga setempat, orang yang meninggal di hari tertentu, yakni Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, makamnya harus ditunggu.

Warga menunggu makam itu selama 40 hari 40 malam.

Cahyo, menunggu makam ayahnya yang meninggal pada Selasa Kliwon sekira dua pekan lalu.

Dia tak sendiri menjalankan tradisi menunggu makam.

"Orang yang meninggal di Selasa Kliwon memiliki keistimewaan-keistimewaan tertentu," jelas Cahyo.

Dipercaya, warga yang meninggal pada Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon menjadi incaran penganut ilmu hitam dan pencari pesugihan.

Karena keyakinan itu, maka keluarga Cahyo memutuskan untuk menunggu makam.

"Ada juga yang hanya menunggu selama 7 hari 7 malam maupun 40 hari 40 malam," jelasnya.

Baca Juga: Terlilit Utang dan Judi Online, Pasutri di Karanganyar Nekat Curi Sepeda Motor: Beraksi 19 Kali di Daerah Ini

Cahyo tak mempermasalahkan jika ada pihak yang tidak mempercayai hal itu.

Pihak keluarganya memilih menjalankan tradisi yang sudah ada turun temurun itu. Sekaligus wujud bakti kepada mendiang orang tua

"Ya menjaga makam dari kemungkinan buruk yang bisa terjadi," ucapnya.

Makam ayah Cahyo ditunggu selama 24 jam nonstop. Baik di siang hari maupun malam hari, pasti ada yang menunggu.

Selain keluarga, tetangga dan kerabat juga diminta bantuan menunggu makam.

Ada empat orang yang dikhususkan menjaga makam selama 40 hari penuh, sejak jenazah dimakamkan.

"Yang pokok menunggu empat orang. Makan dan minum disiapkan. Makam tidak ditinggalkan sama sekali sejak dimakamkan sampai 40 hari," papar Cahyo.

Bukan hanya makan, bekas tempat pemandian jenazah juga ditunggu. Sebab, bagian yang terkena air pemandian jenazah juga dipercaya menjadi incaran penganut ilmu hitam.

"Di rumah ditunggu juga, pada bagian yang kena air mandi itu bisa juga (diambil)," jelas Cahyo.

Selama dua minggu menunggu makam, cahyo belum menemui hal mencurigakan.

Berdasarkan cerita yang dia dapatkan, serta berbagai sumber literasi, saat ada niat orang jahil, akan muncul bau bangkai.

"Katanya, yang ambil bentuknya macan. Makanya segala antisipasi dilakukan. Seperti membuat pagar, intinya meminimalkan," terang Cahyo.

Jika ada yang hendak mencuri bagian dari jenazah, tidak dilakukan dengan cara menggali makam pada umumnya. Namun menggunakan ritual.

Baca Juga: Gedung Pusat Pengembangan Bisnis UNS Solo Terbakar, Ini Kerugian Kampus

"Katanya seperti itu, nanti yang dibutuhkan keluar sendiri. Ada bagian dari jenazah, ada yang kainnya," ucapdia.

Tradisi menunggu makam di wilayah Kecamatan Giriwoyo, tidak hanya dilakukan keluarga Cahyo.

Dia sudah beberapa kali menemui tradisi serupa yang dilakukan warga lainnya.

Cahyo bertekad menunggu makam mendiang ayahnya hingga waktu yang ditentukan.

Di tengah hawa dingin mbediding yang menusuk tulang, Cahyo dan warga lainnya tak bergeming. (al/wa)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#giriwoyo #menjaga makam #wonogiri #ilmu hitam #tradisi