Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Cerita Sri Rejeki, Caleg Terpilih DPRD Wonogiri yang Teruskan Pengabdian sang Suami

Iwan Adi Luhung • Rabu, 14 Agustus 2024 | 23:29 WIB
Sri Rejeki bersama AS. Joko Prayitno atau akrab disapa Joko Lelur, suaminya.
Sri Rejeki bersama AS. Joko Prayitno atau akrab disapa Joko Lelur, suaminya.

 

 

RADARSOLO.COM-Ada cerita di balik terpilihnya Sri Rejeki menjadi anggota DPRD Wonogiri.

Pencalonan dirinya menggantikan AS. Joko Prayitno, sang suami yang sudah 20 tahun menjadi anggota DPRD Wonogiri sempat ditentang oleh anak.

Seperti apa kisahnya?

Sri Rejeki nampak sumringah saat mengikuti gladi bersih pelantikan anggota DPRD Wonogiri di Graha Paripurna DPRD Wonogiri, Rabu (14/8/2024).

Sesekali, dia melempar candaan disusul tawa dari rekan-rekannya, sesama caleg terpilih usai gladi bersih.

Namun ternyata, mencintai dunia politik bukan hal yang instan bagi wanita yang akrab disapa Jeki itu.

Ada proses panjang yang telah dilalui hingga meneguhkan hati maju menjadi caleg sebelumnya.

Selama sang suami menjabat anggota DPRD Wonogiri selama 20 tahun, Jeki selalu setia mendampingi. Dari situ, politisi PDI Perjuangan itu terbiasa bersosial dan bermasyarakat.

"Jadi saat ini bukan hal baru. Dari Pak Lelur (sapaan akrab AS. Joko Prayitno), banyak pelajaran dunia perpolitikan. Dimana harus bisa memperjuangkan aspirasi masyarakat," kata dia.

Jeki tertarik saat mengikuti sang suami memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Baca Juga: Terdakwa Pembunuhan Bayu Handono, Pengusaha Tembaga Asal Boyolali Mulai Disidangkan: Didakwa Hukuman Mati

Contoh lainnya adalah saat mengawal program Bupati Wonogiri saat ini, Joko Sutopo yang notabene juga merupakan politisi PDI Perjuangan.

"Saat masyarakat terbantu, ada perasaan luar biasa. Saya melihat Pak Lelur terjun, saya jadi tertarik juga," beber dia.

Dia menceritakan, saat awalnya hendak menggantikan sang suami sebagai caleg, ada penolakan yang dialaminya. Penolakan itu datang dari sang anak.

Sang anak menolak karena sebelumnya saat Lelur menjabat empat periode anggota DPRD Wonogiri, keluarga selalu menjadi nomor dua. Yang selalu diutamakan adalah masyarakat.

Sebenarnya, kata Jeki, Lelur sempat mengumpulkan tokoh dan masyarakat di dapil II. Dimana saat itu para tokoh ditawarkan untuk memggantikannya dalam kontestasi Pileg.

Namun, tak ada yang mau. Dan mereka mendorong agar Jeki maju menggantikan Lelur. Masyarakat meminta harus ada pengganti Lelur dan dari keluarga.

"Support masyarakat sangat luar biasa. Sampai akhirnya saya siap. Anak kita kasih pengertian. Saat kita jadi wakil rakyat itu ya untuk masyarakat. Anak akhirnya juga paham, kepentingan masyarakat yang lebih utama," kata dia.

Dukungan masyarakat terbukti. Jeki menuturkan, menjalankan strategi Komandante Stelsel, dia memiliki wilayah di empat desa dan satu kelurahan yakni Ngadirojo Lor, Mlokomanis Wetan.

Berikutnya, Ngadirojo Kidul, Kerjo Lor dan Mlokomanis Kulon. Strategi yang didapatkan dari PDI Perjuangan.

Dia mendapatkan 16.046 suara di wilayah binaannya. Sementara di Dapil II mendapatkan suara 17.802.

"Pak Lelur kemarin 15 ribu sekian. Ternyata saya dapat lebih. Saya juga jalankan program UMKM untuk masyarakat," kata dia.

Jika Lelur sebelumnya dua kali mendapatkan suara terbanyak, Jeki juga begitu.

Jika dihitung perolehan suara di wilayah sesuai strategi Komandante Stelsel dia nomor satu. Namun jika dihitung dengan by name dan parpol perolehannya nomor dua se-Wonogiri.

Baca Juga: Soal Rekomendasi DPP PDIP ke Calon Wali kota Solo di Pilkada Belum Turun, Ini Respons Teguh Prakosa

Jeki, mengaku senang, bangga dan terharu. Dia juga berterima kasih kepada masyarakat yang telah memberinya amanah untuk bertugas sebagai wakil rakyat.

Jeki juga meminta agar tetap ada bimbingan dan arahan dari berbagai unsur. Dengan begitu, dia bisa menjalankan tugas dengan maksimal.

Ditemui terpisaah, AS. Joko Prayitno juga tak memungkiri bahwa anaknya sempat memprotes rencana pencalonan sang istri. Namun usai diberi pengertian sang anak bisa memberikan restu.

Lelur tak mencalonkan diri lagi sebagai anggota DPRD karena berbagai pertimbangan. Mulai dari usia, kesehatan dan lainnya.

Meski sudah tak maju menjadi caleg, dia memastikan tetap akan menjadi oetugas partai. Sebab, dia menyadari bahwa dia bisa dikenal masyarakat lewat parpol.

Selama 20 tahun menjadi wakil rakyat, banyak hal yang berkesan baginya. Salah satunya adalah mengenali masyarakat dengan beragam karakternya.

"Yang paling menyentuh, saat seorang Lelur di tengah masyarakat, dianggap seolah luar biasa. Bahkan terkadang menjamu saya. Kampanye 2019, sampai masyarakat bawa bekal sendiri. Masyarakat rela seperti itu. Saya bikin rumah juga gotong royong dari masyarakat. Itu menguatkan saya," papar Lelur.

Karena itu, dia sangat berterima kasih kepada masyarakat. Ada juga militannya secara ikhlas untuk mendukung dia dan PDI Perjuangan yang bekerja di balik layar yang berjuang bersama dirinya.

Adakah pesan khusus terhadap sang istri? Dimana pada Kamis (14/8/2024) bakal dilantik menjadi anggota DPRD Wonogiri.

Ditanya terkait hal tersebut, Lelur terharu. Terbata-bata saat menyampaikan pesan yang telah diberikan kepada sang istri. Dia juga menyeka air matanya.

Lelur menuturkan, sebagai muslim mendapatkan mandat menjadi anggota DPRD bagaikan sebuah rumah. Pondasi bisa dimaknai sebagai kesabaran, tiangnya salat dan atapnya adalah amanah.

"Saat sosok Sri Rejeki yang bukan siapa-siapa, mendapatkan suara 16 ribu tidak mudah. Ketika atapnya trocoh (bocor) bekerja tidak totalutas, maka disayangkan. Maka untuk menjaga atap agar tidak trocoh tetap andhap asor terhadap warga," papar dia.

"Sri Rejeki disebut yang terhormat anggota DPRD. Tapi hakikat sesungguhnya adalah jongos rakyat. Maka tetap istikomah dan patuh mandat dari rakyat. Rejeki ada yang ngatur," imbuh Lelur. (al)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#dprd wonogiri #pelantikan #jeki arisandi #Sri Rejeki #Joko lelur