RADARSOLO.COM-Dua inovasi unggulan Pemkab Wonogiri masuk nominasi nasional dalam Innovative Government Award (IGA) 2024. Dua inovasi itu telah terbukti berdampak positif terhadap upaya penurunan stunting dan mendukung usaha mikro dan kecil.
Bupati Wonogiri Joko Sutopo mengatakan akan ada tim verifikasi lapangan yang turun ke Kota Sukses untuk memverifikasi inovasi Pemkab Wonogiri. Adapun dua inovasi unggulan Pemkab Wonogiri dalam IGA 2024 adalah inovasi Cinta Mutiara Keluarga (CMK) dan inovasi Mitra Desa.
"CMK ini adalah inovasi dinas teknis berkolaborasi dengan pihak terkait untuk meningkatkan semangat intervensi pada stunting," kata dia Jumat (8/11/2024).
Baca Juga: Debat Kedua Paslon Pilkada Klaten Semakin Seru, Masing-Masing Perdalam Penyampaian Visi Misi
Bukan tanpa alasan Pemkab Wonogiri menelurkan aplikasi CMK. Sebab terdapat sejumlah aplikasi seperti Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM) dan lainnya untuk monitoring stunting di lapangan dan itu memiliki bahasa yang terlalu teknis atau medis.
Padahal di satu sisi, imbuh bupati, tim pendamping keluarga di lapangan paham akan bahasa-bahasa itu. Misalnya soal istilah prevelensi, kurang energi kronik (KEK) dan lainnya.
"Maka CMK adalah sebuah aplikasi yang kami sederhanakan dengan bahasa yang bisa dipahami oleh pihak-pihak yang terlibat dalam mengeroyok stunting. Dari sini nampak tren yang cukup menggembirakan," papar pria yang akrab disapa Jekek itu.
Berdasarkan data yang dihimpun, hasil penggunaan CMK untuk pencegahan dan penurunan stunting mengalami tren penurunan sejak 2021-2023. Pada 2021 data stunting di Wonogiri sebesar 13,98 persen, 2022 sebesar 10,62 persen dan 2023 sebesar 10,54 persen.
Adapun CMK memuat laporan status ibu hamil (resiko tinggi, resiko sedang). Selain itu juga memuat laporan status anak (resiko stunting, gizi kurang, berat kurang, normal).
"Bahkan kalau kita menggunakan CMK, saat ini kita tinggal sekitar 8,4 persen," kata Jekek.
Menurut Jekek, pendataan lewat CMK terus dimonitor. Sejak ibu hamil hingga anak. Dengan begitu status anak juga nampak di dalam CMK.
"Disitu cukup detail dan sederhana. Disitu kita juga dapat mengetahui by name by address anak," kata bupati.
Baca Juga: Dirikan 10 Rumah Baca di Solo, Misi Transid Selamatkan Generasi dari Gadget
Dari data yang ditampilkan CMK, maka dilakukan langkah kebijakan. Ada klasterisasi dan penanganan yang dilakukan dan itu dikompetisikan.
Sementara itu, satu inovasi lain yang menjadi unggulan Pemkab Wonogiri adalah Mitra Desa. Program yang sudah dimulai sejak 2021 dan terus berlanjut hingga saat ini itu bersifat kolaboratif dan memadukan unsur dari perguruan tinggi, pemerintah daerah, kecamatan, lembaga desa (perangkat desa, RW, RT, BPD, karang taruna), generasi milenial Wonogiri dari unsur mahasiswa berprestasi dan pelajar SMK.
Terdapat empat fokus program Mitra Desa. Yang pertama, pendataan usaha mikro dan kecil di pedesaan. Sasaran Pendataan usaha ini, yakni usaha-usaha yang memiliki nilai investasi kurang dari Rp 5 miliar.
Kedua, peningkatan legalitas usaha melalui fasilitasi nomor induk berusaha (NIB) gratis. Ketiga, peningkatan aksesibilitas perbankan melalui program Link Perbankan.
Keempat, pemberdayaan usaha mikro dan kecil melaui pendampingan usaha dan fasilitasi kemitraan usaha. Hasil dan manfaat program Mitra Desa dirasakan secara nyata oleh pelaku usaha. Puluhan ribu pelaku usaha mendapatkan NIB secara gratis.
"Kita ada 63.162 (capaian NIB). Itu terbanyak di Jawa Tengah. Tiap desa kita target minimal 100, yang belum minimal 100 tinggal 9 desa. Kita dorong terus," papar bupati.
Nilai investasi mengalami peningkatan sejak 2021 hingga tri wulan ketiga 2024. Rasio daya serap tenaga kerja Pun diketahui dimana di satu usaha bisa menyerap 2-4 tenaga kerja. Usaha mikro tidak perlu melampirkan NIB saat mengajukan kredit di beberapa perbankan.
Dengan adanya program Mitra Desa ini, usaha mikro dan kecil mendapatkan program literasi perbankan. Semua usaha mikro dan kecil yang telah ber-NIB diberi kesempatan untuk menjalin kemitraan strategis. Ini juga mendorong lahirnya pengusaha muda dan pengusaha wanita.
Multiplier effect program Mitra Desa dapat dilihat dari berbagai aspek. Total Jumlah usaha yang berdiri di era 2016- tri wulan IV 2024 sejumlah 78.753 usaha dengan total penyerapan tenaga kerja sebanyak 237.412.
Adapun Mitra Desa juga menjadi bagian penting dalam program penghargaan IGA, Wonogiri Innovation Award (WIA) serta penyaji data terbaik BPS.
Dalam konteks keberlanjutan program pembangunan, Inovasi Mitra Desa dapat dikembangkan sebagai gerakan sosial yang sangat masif berbasis pada ekonomi kerakyatan. Misalnya program pendampingan peningkatan kapasitas usaha mikro kecil berkolaborasi antara Pemda dan elemen kepemudaan.
Program subsidi bunga bagi usaha mikro mendorong kapasitas permodalan. Program link marketplace mendorong kapasitas pemasaran digital. Program sertifikat keamanan pangan dan sertifikat halal mendorong lahirnya produk bergizi dan halal.
Dalam konteks penanggulangan kemiskinan, inovasi Mitra Desa hadir pada aspek intervensi pendapatan. Intervensi ini fokus mendorong penduduk miskin untuk memiliki usaha dengan tujuan meningkatkan pendapatan, sehingga dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan akhirnya mentas dari kemiskinan.
Program Mitra Desa selain selaras dengan kebijakan pemerintah pusat juga sebagai langkah pionir dalam upaya peningkatan daya saing usaha mikro dan kecil yang belum ditemui di daerah lain. Langkah kolaboratif, partisipatif dan akseleratif ini menjadi bukti bahwa Pemkab Wonogiri tidak hanya hadir di tengah masyarakat usaha mikro kecil yang terdampak pandemi, namun juga secara konkret menjadi bagian dari solusi dengan menunjukkan keberpihakan dan mendorong bangkitnya usaha mikro dan kecil. (al)
Editor : Laila Zakiya