RADARSOLO.COM-Publik baru-baru ini dihebohkan oleh peristiwa dua anak yang dirantai oleh orang tua mereka di Majalengka, Jawa Barat, dengan alasan diduga mencuri uang dan ponsel tetangga.
Kejadian ini mengundang perhatian, sekaligus menjadi pelajaran penting bagi orang tua tentang cara melatih kejujuran pada anak dan memenuhi kebutuhan mereka dengan bijak.
Afrilin Dewi Purnama, konselor dari Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (PPKB dan P3A) Wonogiri mengatakan, orang tua perlu memahami pentingnya komunikasi yang sesuai dengan usia anak.
"Jika anak masih berusia lima tahun, gunakan bahasa yang mudah dimengerti, jangan gunakan istilah ekonomi yang sulit dipahami," ujarnya.
Selain itu, Dewi mengingatkan orang tua untuk mengetahui apa yang dibutuhkan anak dan berusaha untuk memenuhinya.
Salah satunya adalah menepati janji kepada anak. Jika janji yang terus diucapkan orang tua tidak terealisasi, anak akan belajar tentang ketidakjujuran dari orang tua mereka.
"Anak akan belajar dari perilaku orang tua. Jika orang tua tidak menepati janji, anak akan meniru ketidakkomitmenan itu," tambah Dewi.
Penting bagi orang tua untuk menjadi contoh dalam hal komitmen dan kejujuran.
Dalam situasi apapun, orang tua perlu menunjukkan konsistensi terhadap janji dan kata-kata mereka.
"Biasakan untuk berkomitmen pada apa yang kita ucapkan, ini akan mengajarkan anak untuk menjadi pribadi yang jujur," ujar Dewi.
Anak-anak di masa kini juga mudah terpapar informasi yang kurang terkendali, yang bisa memengaruhi perilaku mereka.
Beberapa anak mungkin tidak memahami dampak dari tindakan mereka, seperti mencuri.
Karena itu, orang tua perlu menjelaskan dampak negatif dari perilaku tersebut dan memberikan kepercayaan kepada anak, dengan tetap melakukan verifikasi atas informasi yang diberikan oleh mereka.
Dewi juga menekankan bahwa kebutuhan anak tidak selalu sama dengan keinginan mereka.
Orang tua harus bisa membedakan keduanya dan memberikan pemahaman yang sesuai dengan usia anak.
Misalnya, anak usia satu tahun sebaiknya belum diberikan handphone.
Namun, untuk anak di usia kelas II SD, mereka mungkin sudah bisa diberi pengertian tentang penggunaan handphone, terutama untuk keperluan sekolah atau belajar.
“Untuk anak yang lebih besar, seperti kelas V atau VI, handphone mungkin sudah bisa diberikan, namun dengan fitur pengawasan yang sesuai. Sekarang sudah banyak aplikasi yang memungkinkan orang tua untuk memantau penggunaan handphone anak,” kata Dewi.
Pada akhirnya, orang tua harus memberikan pengawasan yang tepat dan memastikan bahwa pemenuhan kebutuhan anak dilakukan secara bijak dan bertanggung jawab.
Mengajarkan kejujuran dan membedakan antara kebutuhan dan keinginan adalah langkah penting dalam pendidikan karakter anak.
Orang tua perlu memosisikan diri mereka dalam dunia anak agar bisa lebih memahami apa yang mereka rasakan dan butuhkan.
"Diberikan pemahaman sesuai dengan usia anak dan selalu ingat bahwa kita harus bisa memposisikan diri sebagai anak juga," pungkas Dewi. (al/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono