RADARSOLO.COM-Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung di Waduk Gajah Mungkur (WGM) wilayah Desa Boto, Kecamatan Baturetno, Wonogiri masih terus bergulir.
Para nelayan yang berpotensi terdampak kini mengusulkan adanya kompensasi berupa modal usaha sebagai bentuk dukungan terhadap proyek tersebut.
Kepala Desa (Kades) Boto Edu Suroso membenarkan bahwa sebelumnya sejumlah nelayan sempat menolak rencana pembangunan PLTS tersebut.
Penolakan itu disampaikan dalam sosialisasi dan konsultasi publik di Pendapa Rumah Dinas Bupati Wonogiri, Mei 2023 lalu.
“Sampai saat ini, penolakan tidak ada. Hanya saja, mereka punya permintaan yang harus disepakati bersama,” ujar Edu, Rabu (9/7/2025).
Salah satu bentuk permintaan nelayan adalah tambahan penghasilan melalui pemberian modal usaha atau kompensasi, guna mengganti potensi hilangnya pendapatan akibat berkurangnya wilayah tangkap ikan.
“Iya kompensasi. Lalu memberi peluang pekerjaan baru seperti dengan beternak. Itu yang dimaksudkan,” terang Edu.
Diketahui, area genangan waduk yang akan menjadi lokasi PLTS selama ini menjadi lokasi andalan nelayan saat musim kemarau.
Warga khawatir, keberadaan PLTS bisa mengganggu aktivitas perikanan mereka.
Respons Warga dan Petani Sekitar PLTS
Selain nelayan, warga yang biasa menggarap lahan pasang surut juga menyampaikan aspirasi yang serupa.
Baca Juga: Wacana Lokasi PLTS Terapung di Titik Berkumpulnya Ikan saat Kemarau, Nelayan WGM Minta Solusi
Mereka berharap proyek ini tidak mengurangi akses dan peluang penghidupan masyarakat.
“Sudah ada sosialisasi seperti dengan warga nelayan dan petani. Harapannya tetap bisa mendapatkan perhatian,” lanjut Edu.
Sementara itu, Pemkab Wonogiri menyatakan bahwa pembangunan PLTS terapung di WGM masih menunggu kepastian dari pihak PT PLN Indonesia Power selaku pelaksana proyek.
Proyek ini disebut mampu menghasilkan daya hingga 100 mega watt. (al/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono