Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Warga Salah Satu Desa di Girimarto Wonogiri Tidak Ada yang Berani Memakai Pakaian Warna Hijau, Begitu Pula dengan Kelir Sepeda Motor

Iwan Adi Luhung • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 02:46 WIB
Makam di Desa Nungkulan, Kecamatan Girimarto, Wonogiri menyimpan cerita mistis yang masih melekat di benak masyarakat hingga sekarang.
Makam di Desa Nungkulan, Kecamatan Girimarto, Wonogiri menyimpan cerita mistis yang masih melekat di benak masyarakat hingga sekarang.

RADARSOLO.COM-Desa Nungkulan di Kecamatan Girimarto, Wonogiri menyimpan kisah yang diceritakan turun-temurun.

Terdapat makam yang disebut sebagai makam kuda yang wingit. Berada di sebuah tempat pemakaman umum.

Kepala Desa (Kades) Nungkulan Devik Aleksander Wasa didampingi Ketua RW 1 Dusun Nungkulan Suharno mengatakan, berdasarkan cerita turun temurun, makam itu adalah makam kuda Ki Ageng Gedong.

Ada pula yang menyebut kuda itu merupakan milik Kyai Ngendran.

"Tokoh dari Keraton Solo. Dulu dikisahkan punya kuda sembrani," ujarnya, Jumat (10/10/2025).

Dikisahkan pada suatu ketika Kyai Ngendran dipanggil untuk datang ke kerajaan.

Dia pun tiba dengan cepat karena menunggangi kuda sembrani.

Petinggi kerajaan takjub dengan kecepatan kuda milik Kyai Ngendran. Hingga berpikir untuk meminta kuda itu.

Petinggi keraton itu juga sempat mencari cara jika permintaannya ditolak.

Benar saja, Kyai Ngendran menolaknya. Hingga akhirnya rencana licik dijalankan. Kyai Ngendran dibuat mabuk.

"Saat mabuk itu, kudanya ditukar dengan kuda yang mirip," beber dia.

Kemudian Kyai Ngendran pulang. Saat di tengah perjalanan, kuda itu lemas dan mati di wilayah yang kini merupakan Desa Nungkulan. Hingga akhirnya dimakamkan di sana.

Baca Juga: Haul Habib Ali Solo, Panitia Siapkan 5 Ton Beras dan 300 Ekor Kambing untuk Jemaah

"Saat itu Kyai Ngendran berucap sejumlah hal. Salah satunya pejabat yang ke sana bakal turun pangkat. Kan sakti. Dan itu sudah pernah ada kejadian," kata dia.

Pantangan lain adalah saat berada di sana, tak boleh mengenakan pakaian berwarna hijau. Hal itu hingga kini masih dijaga.

Pada malam-malam tertentu, ada banyak peziarah. "Ini kebetulan juga ada yang tidur di dalam. Kalau Suro, juga digelar sedekah. Warga bawa (ayam) panggang dan tumpeng lalu dimakan bersama-sama," kata Suharno.

Meski ada pantangan pejabat untuk tidak datang karena kariernya disebut bakal merosot, Suharno menuturkan itu kini tak memengaruhi kedatangan pejabat.

"Asalkan niatnya bagus tidak apa-apa," kata dia.

Sementara itu, Wakil Bupati (Wabup) Wonogiri Imron Rizkyarno juga mengetahui cerita di makam itu.

Meski bukan warga asli Nungkulan, Imron sejak SMA sudah tinggal di sana.

"Pantangan soal tidak memakai pakaian hijau di sana memang betul. Bahkan, warga Nungkulan juga tidak ada yang punya kendaraan warna hijau," kata dia.

Pantangan lain, imbuh Imron, adalah tak boleh minum-minuman keras di wilayah setempat.

Pernah kejadian ada yang menenggak miras dan hanya berputar-putar desa saat hendak keluar dari wilayah setempat.

"Ceritanya sudah diwariskan turun temurun. Di dalamnya (bangunan makam) bisa muat banyak orang," pungkasnya. (al)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#wingit #Desa Nungkulan #Kyai Ngendran #makam kuda #girimarto #Ki Ageng Gedong #wonogiri