RADARSOLO.COM - Di balik perannya sebagai figur publik, sosok Sri Rahayuningsih Setyo Sukarno tumbuh dari tempaan kehidupan sederhana yang sarat nilai kedisiplinan dan kerja keras. Didikan ketat sejak kecil membentuknya untuk mandiri dan berdikari.
Wanita yang akrab disapa Yayuk itu bercerita, dia tumbuh besar di era ketika anak-anak dididik untuk 'prihatin'. Itu jauh dari kemudahan instan seperti saat ini. Nilai-nilai seperti tata krama, gotong royong, hingga kemandirian menjadi fondasi kuat yang membentuk karakternya.
"Perempuan harus luwes sekaligus tangguh. Orang tua saya juga usaha. Sejak kecil sudah diajak ikut ritme orang tua. Ini juga mengajari saya ketegasan," ujar Yayuk.
Yayuk lebih dahulu ditempa di dunia wirausaha untuk mengasah mentalnya. Lewat usaha UD Rahayu yang dirintis dari nol, dia belajar menghadapi krisis, mengelola usaha, hingga memahami berbagai karakter manusia. Pengalaman itu menjadi bekal penting saat kini harus memimpin dan terjun langsung ke masyarakat.
"Dunia usaha mengajarkan saya terkait tidak pernah menyerah. Coba cari solusi ketika menghadapi jalan buntu," beber Yayuk.
Yayuk menyebut titik balik hidupnya bukan peristiwa instan, melainkan proses panjang ketika tanggung jawab keluarga meluas menjadi tanggung jawab sosial untuk masyarakat Wonogiri. Perubahan paling terasa sejak menjadi figur publik adalah berkurangnya ruang privat dan padatnya agenda.
"Waktu saya sekarang sebagian besar milik masyarakat. Belum begitu terasa saat Pak Setyo di DPRD, tapi setelah menjadi cabup dan sekarang bupati, perubahan sangat terasa," terangnya.
Diakui Yayuk, itu menjadi tantangan berat di awalnya. Membagi peran sebagai ibu, pengusaha, sekaligus pendamping kepala daerah. Dia menggambarkan masa awal itu seperti 'memegang banyak piring sekaligus'.
Soal membagi waktu, dia kini tak kesulitan. Apalagi kini ada staf yang membantunya mengatur jadwal sebagai ketua TP PKK Wonogiri, Bunda PAUD dan juga Bunda Literasi Wonogiri.
Meski demikian, Yayuk menegaskan tidak pernah kehilangan jati diri. "Bukan hilang, tapi kapasitas diri saya yang bertambah," bebernya.
Dalam keseharian, dia tetap menjalani peran sederhana sebagai ibu dan nenek, yang sesekali masih memantau usaha. Prinsip hidup yang selalu dipegangnya adalah keikhlasan dan tanggung jawab, serta menjadi kuat tanpa kehilangan kelembutan.
Momen yang membekas saat bersama Setyo Sukarno sejak 1990 diantaranya adalah suasana saling menguatkan. Yayuk menuturkan dia tak bisa berdiri tegak jika tak bersama Setyo, dan begitupun sebaliknya.
"Saat kami menikah, kami memulai dari nol. Saya buka UD Rahayu dan Pak Setyo dulu menjadi guru. Itu membuat kami saling ketergantungan. Selama menikah, saya belum pernah dimarahi. Pak Setyo sosok yang mencintai keluarganya. Kalau sudah dengan anak cucu, luar biasa sayangnya," tuturnya. (al/nik)
Editor : Niko auglandy